Peneliti di Mailman School of Public Health Universitas Columbia menggunakan simulasi komputer untuk merekonstruksi bagaimana pandemi influenza H1N1 2009 dan pandemi COVID-19 2020 meluas di wilayah metropolitan AS. Studi yang diterbitkan di *Proceedings of the National Academy of Sciences* menemukan bahwa kedua virus sudah menyebar luas di banyak kota dalam hitungan minggu, dengan perjalanan udara memainkan peran lebih besar daripada perjalanan harian. Penulis mengatakan pengawasan air limbah yang lebih luas, dipadukan dengan langkah-langkah pengendalian infeksi, dapat membantu memperlambat penyebaran awal pada wabah masa depan.
Ilmuwan di Mailman School of Public Health Universitas Columbia menggunakan pemodelan komputer untuk merekonstruksi bagaimana dua pandemi pernapasan utama menyebar secara geografis di Amerika Serikat: pandemi influenza H1N1 2009 dan pandemi COVID-19 2020. nnStudi—yang diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences—melaporkan bahwa di Amerika Serikat, pandemi H1N1 2009 terkait dengan perkiraan 274.304 rawat inap dan 12.469 kematian. Untuk COVID-19, peneliti mengutip 1,2 juta kematian yang dikonfirmasi dilaporkan sejauh ini di Amerika Serikat. nnUntuk memeriksa seberapa cepat pandemi berpindah antar kota, tim menggabungkan informasi rinci tentang dinamika transmisi setiap virus dengan simulasi yang memasukkan pola perjalanan udara, alur perjalanan harian, dan potensi peristiwa superspreading. Analisis fokus pada lebih dari 300 wilayah metropolitan AS. nnSimulasi menunjukkan bahwa kedua pandemi menetapkan sirkulasi luas di sebagian besar wilayah metro dalam beberapa minggu, sering kali sebelum deteksi kasus awal atau langkah respons pemerintah. Meskipun kedua virus mengikuti jalur berbeda antar lokasi, keduanya bergantung pada pusat transmisi bersama—termasuk wilayah metro utama seperti New York dan Atlanta—dan model menemukan bahwa perjalanan udara lebih kuat terkait dengan penyebaran spasial awal daripada perjalanan harian. nnPola transmisi yang tidak dapat diprediksi juga memperkenalkan ketidakpastian yang, menurut peneliti, membuat peramalan waktu nyata sulit. «Penyebaran cepat dan tidak pasti pandemi flu H1N1 2009 dan COVID-19 2020 menggarisbawahi tantangan untuk deteksi dan pengendalian tepat waktu,» kata penulis senior studi, Sen Pei, asisten profesor ilmu kesehatan lingkungan di Columbia. «Memperluas cakupan pengawasan air limbah yang dipadukan dengan pengendalian infeksi yang efektif dapat memperlambat penyebaran awal pandemi masa depan.» nnPekerjaan ini juga menggambarkan kerangka pemodelan yang lebih luas yang dimaksudkan untuk diterapkan pada wabah lain. Selain pola perjalanan manusia, peneliti mencatat bahwa dinamika epidemi dapat dibentuk oleh faktor seperti demografi populasi, kalender sekolah, libur musim dingin, dan kondisi cuaca. nnPenulis pertama studi adalah Renquan Zhang dari Dalian University of Technology. Tim penulis mencakup peneliti dari Universitas Columbia, Universitas Princeton, dan National Institutes of Health AS, antara lain. Ringkasan Columbia juga mencatat bahwa Jeffrey Shaman dan rekan-rekannya telah bekerja selama lebih dari satu dekade pada metode untuk melacak dan mensimulasikan penyebaran penyakit menular untuk mendukung pengambilan keputusan kesehatan masyarakat.