Cuba launches clinic for chikungunya aftereffects

The Institute of Neurology and Neurosurgery in Cuba has begun a specialized clinic to care for patients with post-chikungunya ailments, particularly those linked to neuropathic pain, joint pain, and paresthesia. This step provides focused treatment for individuals impacted by the mosquito-borne virus.

In Havana on December 23, the Institute of Neurology and Neurosurgery in Cuba has launched a specialized clinic dedicated to treating patients with post-chikungunya ailments. The facility focuses on conditions such as neuropathic pain, joint pain, and paresthesia, which are common lingering effects of the mosquito-borne chikungunya virus that causes fever and severe aches.

Chikungunya can lead to long-term complications that impair daily life for those infected. The new clinic aims to address these persistent issues through comprehensive care. As reported by Prensa Latina, this opening meets the demand for specialized health services in Cuba.

While specific patient numbers are not yet available, the clinic is part of Cuba's public health efforts to manage infectious diseases and their neurological aftermaths. This initiative highlights Cuba's dedication to accessible medical treatment for virus-related conditions.

Artikel Terkait

Comparative illustration of long COVID patients: US woman with severe brain fog and anxiety versus milder symptoms in India, Nigeria, and Colombia, per international study.
Gambar dihasilkan oleh AI

Studi internasional temukan pasien long COVID AS laporkan kabut otak dan gejala psikologis lebih banyak daripada rekan di India dan Nigeria

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Sebuah studi yang dipimpin oleh Northwestern Medicine pada lebih dari 3.100 orang dewasa dengan long COVID menemukan bahwa peserta yang tidak dirawat inap di Amerika Serikat melaporkan tingkat yang jauh lebih tinggi dari kabut otak, depresi/kecemasan, dan insomnia dibandingkan peserta di Kolombia, Nigeria, dan India—perbedaan yang menurut peneliti kemungkinan mencerminkan faktor budaya dan akses perawatan sebanyak biologi.

Cuban President Miguel Díaz-Canel presented preliminary positive results from clinical trials of the biotechnological drug Jusvinza in patients with chronic post-chikungunya arthritis. The studies, started in December 2025, show notable improvements in provinces like Havana and Matanzas. Experts highlight the drug's safety profile and potential to slow inflammation.

Dilaporkan oleh AI

Cuba has a favorable epidemiological situation in its fight against arboviruses, following a 21 percent decrease in reported febrile cases last week. This improvement highlights effective efforts to control vector-borne diseases such as dengue and zika. Health authorities emphasize the need for ongoing vigilance.

Penelitian baru menantang kekhawatiran lama tentang obat antivirus oseltamivir, yang dikenal sebagai Tamiflu, dan hubungannya potensial dengan kejadian neuropsikiatrik serius pada anak. Sebaliknya, studi tersebut mengaitkan gejala tersebut dengan virus influenza itu sendiri dan menunjukkan bahwa pengobatan Tamiflu menghaluskan risiko komplikasi ini. Temuan, berdasarkan analisis besar catatan kesehatan pediatrik, bertujuan meyakinkan keluarga dan dokter tentang keamanan obat tersebut.

Dilaporkan oleh AI

Teknologi genetik bernama gene drive menunjukkan harapan dalam mencegah penularan malaria oleh nyamuk selama uji laboratorium di Tanzania. Peneliti memodifikasi nyamuk lokal untuk menghasilkan protein antimalaria, menunjukkan penghambatan efektif parasit dari anak-anak yang terinfeksi. Temuan menunjukkan pendekatan ini bisa berhasil di lapangan jika dilepaskan.

The Hatuey Project, a U.S.-based solidarity initiative, delivered donations of supplies and medications for pediatric cancer treatment to two Cuban hospitals. This marks the eighth time they have supported the island's health system amid the U.S. economic blockade. The project's coordinator reaffirmed an unwavering commitment to Cuba during an event in Havana.

Dilaporkan oleh AI Fakta terverifikasi

Ilmuwan di University of Queensland telah menangkap gambar 3D pertama dengan resolusi hampir atomik dan resolusi tinggi dari virus demam kuning, merinci bagaimana permukaan strain vaksin yang telah lama digunakan berbeda dari strain virulen penyebab penyakit. Pekerjaan ini menerangi bagaimana virus dikenali oleh sistem kekebalan dan dapat mendukung vaksin yang lebih baik untuk demam kuning dan penyakit bawaan nyamuk terkait.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak