Sebuah studi baru mengungkap bahwa runtuhnya kota-kota Maya Klasik melibatkan lebih dari sekadar kekeringan, termasuk pergeseran iklim, konflik, dan ekonomi skala pertanian. Peneliti menemukan bahwa perbaikan kondisi pedesaan akhirnya menarik orang menjauh dari pusat kota. Temuan ini menantang pandangan lama tentang urbanisasi kuno.
Arkeolog yang dipimpin oleh Douglas Kennett dari University of California, Santa Barbara, telah mengembangkan model yang menjelaskan naik-turunnya kota-kota Maya Klasik di Dataran Rendah. Diterbitkan di Proceedings of the National Academy of Sciences, penelitian ini mengintegrasikan teori ekologi populasi untuk menganalisis bagaimana berbagai kekuatan membentuk pola urban kuno.
Studi ini menyoroti bahwa pertumbuhan kota berasal dari penurunan iklim, konflik antar kelompok, dan ekonomi skala kuat melalui investasi dalam infrastruktur pertanian. "Kami menentukan bahwa naik dan ekspansi kota-kota Maya Klasik dihasilkan dari interaksi penurunan iklim, konflik antar kelompok, dan kehadiran ekonomi skala kuat yang direalisasikan melalui investasi modal dalam infrastruktur pertanian," kata Kennett. Elemen-elemen ini memupuk urbanisme, ketidaksetaraan, dan hubungan patron-klien, membuat kehidupan kota yang ramai menarik meskipun biaya seperti paparan penyakit dan persaingan sumber daya.
Sejak 2012, tim telah mengumpulkan data tentang pergerakan populasi, perang, dan sistem pertanian. Kemajuan terbaru dalam catatan iklim resolusi tinggi dan pemodelan komputasi memungkinkan analisis komprehensif. Model ini menyatukan teori-teori sebelumnya tentang tekanan lingkungan, kekerasan, dan ekonomi.
Secara khusus, deurbanisasi terjadi ketika manfaat urban berkurang. Lingkungan kota yang rusak dan perbaikan iklim meningkatkan kelayakan hidup pedesaan, menawarkan otonomi yang lebih besar. "Kejutan terbesar bagi saya adalah bahwa pengabaian kota terjadi di bawah kondisi iklim yang membaik," amati Kennett. Hal ini menyulitkan narasi kekeringan sebagai penyebab tunggal runtuhnya Maya sekitar abad ke-9.
Kerangka kerja ini memberikan wawasan tentang evolusi urban, berlaku untuk konteks historis dan modern, menunjukkan mengapa masyarakat agraris terkadang terpusat meskipun memiliki kekurangan inheren.