Struktur air superionik terbukti lebih berantakan dari perkiraan

Para ilmuwan telah mengungkap susunan atom yang lebih kompleks dalam air superionik, bentuk yang kemungkinan besar memberi daya pada medan magnet Uranus dan Neptunus. Keadaan eksotis ini muncul di bawah tekanan dan suhu ekstrem, menghantarkan listrik seperti cairan parsial dalam kerangka padat. Penemuan ini, dari eksperimen laboratorium yang meniru interior planet, menantang model sebelumnya dan menyempurnakan pemahaman tentang raksasa es.

Air berubah secara dramatis di bawah kondisi ekstrem di dalam planet raksasa, menjadi superionik—fase di mana atom oksigen membentuk kisi tetap sementara ion hidrogen bergerak bebas, memungkinkan konduktivitas listrik. Sifat ini menjadikan air superionik tersangka utama yang menghasilkan medan magnet tidak biasa di sekitar Uranus dan Neptunus, yang menyimpan cadangan air besar di kedalaman mereka. Peneliti kini melaporkan bahwa strukturnya jauh lebih tidak teratur daripada yang diperkirakan sebelumnya, memadukan bagian kubik berpusat muka dengan lapisan hexagonal rapat, menghasilkan hibrida tidak beraturan daripada kristal seragam. Studi sebelumnya menyarankan pengaturan lebih sederhana, seperti pola kubik berpusat badan atau berpusat muka untuk atom oksigen. Namun, eksperimen canggih telah mengungkap kompleksitas kenyataan. Menggunakan instrumen Matter in Extreme Conditions di Linac Coherent Light Source di Amerika Serikat dan pengaturan High Energy Density-HIBEF di European XFEL, tim mengompresi air melebihi 1,5 juta atmosfer dan memanaskannya hingga ribuan derajat Celsius. Pulsa laser sinar-X menangkap snapshot atom dalam femtodetik, mengonfirmasi bahwa struktur campuran selaras dengan simulasi canggih. Temuan ini mencerminkan keragaman fase es biasa, menyoroti sifat air yang tak terduga di bawah tekanan. Hasilnya memperkuat model evolusi raksasa es, yang mungkin umum di seluruh alam semesta. Lebih dari 60 ilmuwan dari Eropa dan Amerika Serikat berkolaborasi, didanai oleh Yayasan Penelitian Jerman dan ANR Prancis. Studi tersebut muncul di Nature Communications.

Artikel Terkait

A comet from beyond our solar system shows dramatically higher levels of deuterium-rich water than any object seen locally. The findings suggest it formed under much colder conditions than those in our own planetary neighborhood. Researchers used observations from two major telescopes to make the measurements.

Dilaporkan oleh AI

New research indicates that hidden oceans on icy moons around outer planets may boil due to tidal heating, explaining unusual surface features. The study, published in Nature Astronomy, focuses on smaller moons like Enceladus, Mimas, and Miranda. Lead author Max Rudolph from UC Davis highlights the processes shaping these worlds over millions of years.

Astronomers have identified massive rings of plasma around young M dwarf stars that function as built-in monitors for stellar space weather. These structures, presented at the American Astronomical Society meeting, could help assess conditions for habitable planets orbiting these common stars. The findings come from research by Carnegie's Luke Bouma and Moira Jardine of the University of St Andrews.

Dilaporkan oleh AI

Astronomers have discovered that the outermost rings of Uranus, known as the mu and nu rings, differ markedly in composition despite their similar appearance. The mu ring consists of tiny ice grains, likely from a small icy moon, while the nu ring is rich in dust and organic molecules. These findings, drawn from two decades of telescope observations, raise new questions about the planet's dynamic ring system.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak