Hampir 12 juta permohonan manfaat imigrasi menunggu tindakan di U.S. Citizenship and Immigration Services hingga akhir September 2025, termasuk 11,6 juta dalam tumpukan (backlog) USCIS dan 247.974 berkas yang belum dibuka dalam "frontlog" terpisah, menurut tinjauan NPR terhadap data USCIS. NPR melaporkan bahwa tumpukan tersebut bertambah sekitar 2 juta pada tahun pertama masa jabatan kedua Presiden Trump, kenaikan yang lebih cepat dibandingkan sepanjang masa jabatan pertamanya, yang menyebabkan lebih banyak pemohon tidak memiliki bukti tepat waktu bahwa berkas mereka telah diterima.
Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses permohonan manfaat imigrasi — termasuk naturalisasi, kartu hijau (green card), izin kerja, dan suaka — sejak awal 2025, menurut analisis NPR terhadap data U.S. Citizenship and Immigration Services (USCIS).
Analis kebijakan imigrasi mengatakan bahwa penumpukan yang terus bertambah telah meningkatkan jumlah imigran yang berada dalam ketidakpastian hukum dan, dalam beberapa kasus, dapat menjadi lebih rentan terhadap penegakan hukum jika mereka tidak dapat menunjukkan bukti dengan cepat bahwa permohonan mereka sedang diproses.
David Bier, direktur studi imigrasi di Cato Institute yang berhaluan libertarian, mengatakan kepada NPR bahwa perlambatan tersebut mencerminkan pendekatan yang mengutamakan penegakan hukum. "Hambat segalanya, fokus sepenuhnya pada deportasi dan penangkapan sebagai tolok ukur keberhasilan Anda," kata Bier.
Juru bicara USCIS, Matthew Tragesser, membela kecepatan yang melambat tersebut, mengatakan kepada NPR bahwa badan tersebut telah memperluas "proses penyaringan dan pemeriksaan" yang menurutnya sempat dikurangi di bawah pemerintahan sebelumnya. Dalam sebuah pernyataan, Tragesser menyebutkan langkah-langkah seperti tes naturalisasi yang lebih ketat, pemeriksaan media sosial, dan kunjungan lingkungan yang bertujuan untuk menilai "karakter moral yang baik" dan "keterikatan pada Konstitusi" para pemohon, seraya menambahkan: "USCIS tidak akan mengambil jalan pintas dalam proses ajudikasi."
Tumpukan (backlog) — dan "frontlog" yang terus bertambah
NPR melaporkan bahwa USCIS memiliki hampir 12 juta permohonan tertunda yang menunggu keputusan. "Tumpukan" (backlog) badan tersebut berjumlah sekitar 11,6 juta kasus. Secara terpisah, USCIS melaporkan 247.974 kasus dalam apa yang mereka sebut sebagai "frontlog" — berkas yang telah diterima, biasanya melalui pos, namun belum dibuka dan dikategorikan.
Tinjauan NPR menemukan bahwa jumlah kasus tertunda terus meningkat selama dekade terakhir. NPR juga melaporkan bahwa tumpukan tersebut meningkat sekitar 2 juta pada tahun pertama masa jabatan kedua Presiden Trump — lebih banyak daripada kenaikan selama sepanjang masa jabatan pertamanya.
Jeda pada beberapa peninjauan
Pada paruh kedua tahun 2025, pemerintahan Trump menghentikan sementara banyak peninjauan permohonan, termasuk peninjauan permohonan suaka, lapor NPR. Peninjauan tersebut dilanjutkan kembali pada akhir Maret 2026.
NPR juga melaporkan bahwa pemerintah menghentikan sementara peninjauan permohonan imigrasi bagi orang-orang dari 39 negara yang tercakup dalam daftar larangan perjalanan, yang menurut pemerintah mencerminkan risiko keamanan yang meningkat.
Pengacara menggambarkan penantian panjang untuk tanda terima
Pengacara imigrasi mengatakan kepada NPR bahwa berkas yang dikirim melalui pos bisa memakan waktu berbulan-bulan tanpa adanya konfirmasi dari badan tersebut, sehingga menyulitkan kasus klien yang membutuhkan tanda terima untuk membuktikan bahwa permohonan sedang diproses.
Luis Cortes Romero, seorang pengacara imigrasi yang berbasis di Seattle, mengatakan kepada NPR bahwa salah satu kliennya ditolak wawancara kartu hijau pada bulan Januari karena keterlambatan dokumen setelah menunggu selama setahun, dan wawancara tersebut belum dijadwalkan ulang.
Renata Castro, seorang pengacara imigrasi dengan klien di seluruh negeri, mengatakan kepada NPR bahwa beberapa pemohon bisa menunggu hingga delapan bulan sebelum USCIS mengeluarkan pemberitahuan tanda terima. Castro mengatakan keterlambatan bisa sangat terasa bagi klien yang ditempatkan dalam proses deportasi, di mana hakim mungkin mendesak pengacara untuk memberikan bukti permohonan yang tertunda.
Pandangan berbeda mengenai penyebab dan solusi
Elizabeth Jacobs, direktur urusan regulasi dan kebijakan di Center for Immigration Studies, yang mendukung tingkat imigrasi yang lebih rendah, mengatakan kepada NPR bahwa lonjakan awal dalam kasus tertunda mungkin sebagian terkait dengan penghentian program-program lain oleh pemerintah yang sebelumnya menawarkan status hukum di luar proses USCIS, seperti beberapa jalur pembebasan bersyarat kemanusiaan (humanitarian parole). Jacobs mengatakan tumpukan besar menimbulkan masalah baik bagi pemohon maupun pemerintah.
Brandy Perez Carbaugh, mantan rekan peneliti di Border Security and Immigration Center milik Heritage Foundation, mengatakan kepada NPR bahwa skala beban kasus yang tertunda menggarisbawahi perlunya pengawasan yang lebih ketat. Ia mendesak agar penerimaan permohonan baru dihentikan sementara sampai tumpukan berkurang, dan mengatakan badan tersebut harus lebih fokus pada deteksi penipuan.