AS bersiap menghadapi cuaca yang kacau setelah masa tenang di tahun 2025

Gelombang panas yang sangat besar di AS bagian Barat dan potensi terjadinya El Nino menandakan kekhawatiran akan cuaca ekstrem yang tidak dapat diprediksi di masa depan. Meskipun tahun 2025 tercatat sebagai tahun terpanas ketiga dalam sejarah, bencana iklim yang terjadi lebih sedikit dari yang diperkirakan.

Tahun 2025 dinyatakan sebagai tahun terpanas ketiga yang tercatat secara global, namun terbukti relatif tidak menimbulkan bencana iklim di AS. Tidak ada badai besar yang mendarat, dan total lahan yang terbakar akibat kebakaran hutan turun di bawah rata-rata 10 tahun, yang merupakan ukuran utama intensitas musim kebakaran hutan, menurut laporan Wired yang diterbitkan pada 19 Maret 2026. Ketenangan relatif ini kontras dengan ancaman yang muncul di masa mendatang. Gelombang panas yang sangat besar saat ini sedang melanda AS bagian Barat, sementara para peramal cuaca memperingatkan akan adanya potensi kejadian El Nino. Perkembangan ini menimbulkan kekhawatiran tentang cuaca ekstrem yang tidak dapat diprediksi dan berkepanjangan di seluruh negeri. Kata kunci yang terkait dengan laporan tersebut meliputi iklim, cuaca, lingkungan, dan El Nino. Artikel ini mendesak persiapan untuk menghadapi volatilitas cuaca yang lebih tinggi setelah musim 2025 yang lemah.

Artikel Terkait

Drought-stricken Andes landscape with forest fires and NOAA El Niño forecast map overlay, illustrating 90% probability warning.
Gambar dihasilkan oleh AI

NOAA raises El Niño probability to 90% for September 2026

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

The US National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) updated its forecasts, estimating a 90% probability of El Niño starting in September 2026 and lasting through the year's final quarter. It raised the May-July projection from 25% in March to 61%. Experts warn of impacts in regions like the Caribbean, Andes, and Orinoquía, including forest fire risks from water deficits and thermal stress.

James Hansen, a prominent climate scientist at Columbia University, has predicted that 2026 will become the hottest year on record, surpassing 2024 due to accelerating global warming and an impending super El Niño. He argues that current sea surface temperatures support this forecast despite ongoing La Niña cooling. Other experts urge caution amid forecast uncertainties.

Dilaporkan oleh AI

Building on the record-low snowpack and early heat risks entering spring, a prolonged March heat wave shattered temperature records across the Western US, from Tucson to Casper. Described as the earliest and most widespread in the Southwest, climate change made it far more likely, compounding winter droughts and raising long-term wildfire and ecosystem threats.

Cities from Paris to Barcelona are staging elaborate drills to prepare for extreme heat waves made more likely by climate change. These exercises test emergency responses, infrastructure, and public awareness amid warnings of deadly temperatures ahead. Officials say the simulations reveal critical weaknesses before real crises hit.

Dilaporkan oleh AI

A new analysis in Geophysical Research Letters shows Earth warming at ~0.36°C per decade since 2014—about double the prior rate of 0.18°C per decade—with 98% confidence after accounting for natural factors. Led by Stefan Rahmstorf, the study warns the Paris Agreement's 1.5°C limit could be breached by 2028, amid debates over short-term trends and data uncertainties.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak