Laju pemanasan Bumi berlipat ganda sejak 2014

Pemanasan global telah mengalami percepatan, dengan Bumi memanas sekitar 0.36°C per dekade sejak 2014, dua kali laju 0.18°C per dekade sebelumnya. Peneliti mengaitkan percepatan ini dengan aktivitas manusia, menimbulkan kekhawatiran akan pencapaian batas 1.5°C Perjanjian Paris lebih cepat dari yang diantisipasi. Temuan ini berasal dari analisis berbagai kumpulan data suhu.

Analisis oleh Stefan Rahmstorf di University of Potsdam, Jerman, dan koleganya memeriksa lima kumpulan data suhu global dan menemukan percepatan pemanasan yang signifikan secara statistik. Sebelum 2013-14, planet memanas kira-kira 0.18°C per dekade. Sejak itu, laju naik menjadi sekitar 0.36°C per dekade, dikonfirmasi dengan tingkat keyakinan 98 persen karena perubahan iklim daripada fluktuasi alami seperti El Niño. Pernyataan ini telah memicu perdebatan di kalangan ilmuwan iklim, terutama setelah tahun-tahun tercatat paling panas pada 2023 dan 2024. Faktor alami, seperti peristiwa El Niño, letusan vulkanik, dan siklus matahari, diperhitungkan dalam studi dengan menyesuaikan kurva pada data suhu. Namun, Zeke Hausfather di Berkeley Earth mencatat bahwa beberapa efek faktor-faktor ini mungkin belum sepenuhnya dihilangkan, yang berpotensi menyebabkan perkiraan sedikit berlebih terhadap percepatan. Meski begitu, ia menggambarkan bukti untuk laju pemanasan yang lebih cepat sebagai kuat. Jika laju saat ini berlanjut, suhu global bisa melebihi ambang 1.5°C di atas tingkat pra-industri pada 2028, menurut proyeksi. Satu kumpulan data dari European Centre for Medium-Range Weather Forecasts menunjukkan bahwa batas ini mungkin sudah tercapai tahun ini berdasarkan rata-rata 20 tahun. Rahmstorf menekankan implikasinya: “Setiap sepersepuluh derajat penting dan membuat dampak pemanasan global semakin buruk dalam hal peristiwa cuaca ekstrem, dampak ekosistem, juga risiko melampaui titik tipping.” Ilmuwan menghubungkan percepatan ini terutama dengan pengurangan emisi sulfur dioksida dari pelayaran pada 2020, yang sebelumnya membentuk aerosol pendingin. Pengurangan lanjutan polusi udara dari bahan bakar fosil dapat melanjutkan tren ini, meskipun Rahmstorf menyarankan laju pemanasan bisa melambat dalam dekade mendatang. Melampaui 1.5°C meningkatkan risiko bagi terumbu karang air hangat, lapisan es Greenland, Antartika barat, dan hutan hujan Amazon. Studi tersebut muncul di Geophysical Research Letters (DOI: 10.1029/2025GL118804).

Artikel Terkait

Organisasi Meteorologi Dunia telah menyatakan 2025 sebagai tahun kedua terpanas secara global, dengan suhu rata-rata 1,47°C di atas tingkat pra-industri. Ini menandai tonggak yang mengkhawatirkan, karena melampaui rekor sebelumnya meskipun ada pola pendinginan La Niña. 11 tahun terakhir kini menjadi yang terpanas dalam sejarah tercatat.

Dilaporkan oleh AI

Laporan baru dari para ilmuwan iklim dan pakar keuangan memperingatkan bahwa dunia telah meremehkan laju pemanasan global, yang berpotensi menyebabkan kerugian ekonomi triliunan pada 2050. Pemerintah dan bisnis didesak mempersiapkan skenario kasus terburuk di tengah percepatan kenaikan suhu. Data terbaru menunjukkan 2025 sebagai tahun ketiga terpanas yang tercatat, mendekati pelanggaran ambang 1,5°C Perjanjian Paris lebih cepat dari perkiraan.

Model iklim memprediksi bahwa laju hilangnya gletser akan meningkat menjadi 3000 per tahun pada 2040, bahkan jika negara-negara mencapai target pengurangan emisi mereka. Hal ini dapat menyebabkan 79 persen gletser dunia hilang pada 2100 di bawah kebijakan saat ini, mengancam pasokan air untuk miliaran orang dan berkontribusi pada kenaikan permukaan laut. Peneliti menekankan potensi menyelamatkan banyak gletser dengan membatasi pemanasan pada 2 derajat Celsius.

Dilaporkan oleh AI

Sebuah kubah es penting di Greenland utara mencair sepenuhnya sekitar 7000 tahun lalu selama periode yang lebih hangat, menurut penelitian baru. Para ilmuwan memperingatkan bahwa suhu serupa bisa kembali pada 2100 akibat perubahan iklim yang disebabkan manusia, menyoroti kerentanan lapisan es. Penemuan ini memberikan wawasan krusial tentang potensi kenaikan permukaan laut di masa depan.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak