Studi baru menunjukkan bahwa kemajuan dalam teknologi baterai kendaraan listrik akan secara besar-besaran mengimbangi dampak pemanasan global terhadap umur pakai baterai. Baterai EV lama dari 2010 hingga 2018 mungkin mengalami pengurangan umur pakai hingga 30 persen dalam skenario pemanasan ekstrem, sementara model baru dari 2019 hingga 2023 seharusnya mempertahankan daya tahannya. Penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan University of Michigan menyoroti kemajuan dalam manajemen baterai di tengah kenaikan suhu.
Kendaraan listrik telah mengatasi kekhawatiran awal tentang degradasi baterai melalui sistem manajemen yang ditingkatkan dan pendingin cair, membatasi kehilangan jarak tempuh tahunan hingga sekitar 2 persen, menurut peneliti di University of Michigan. Penelitian tersebut, yang diterbitkan di Nature Climate Change pada 6 Maret 2026, memodelkan efek perubahan iklim terhadap baterai EV. Penulis utama Haochi Wu, yang kini menjadi peneliti pascadoktor di Stanford, dan rekan-rekannya meneliti bagaimana suhu melebihi 40° C dapat mendestabilisasi elektroda, mempercepat pembusukan elektrolit, serta melemahkan kekuatan mekanis, yang memperburuk penuaan kalender dan siklus. Mereka juga memasukkan kebutuhan pengisian yang meningkat akibat penurunan efisiensi kendaraan dalam kondisi lebih panas. Simulasi membandingkan baterai dari 2010–2018, dengan umur pakai median saat ini 15 tahun, dengan baterai dari 2019–2023 yang bertahan rata-rata 17 tahun. Di bawah skenario pemanasan parah 4° C, baterai lama mungkin turun menjadi umur pakai median 12 tahun—penurunan 20 persen—dengan beberapa mengalami kehilangan 30 persen atau lebih. Baterai baru, bagaimanapun, diproyeksikan mempertahankan umur pakai median 17 tahunnya, dengan degradasi maksimum 10 persen. Wu menyatakan, “Saya pikir perbaikan ini sudah dikenal baik oleh para ahli di bidang ini. Namun saat saya memulai proyek ini, saya melihat forum web dan membaca bagaimana orang-orang memilih mobil. Masih ada banyak kekhawatiran tentang daya tahan baterai EV.” Analisis di 300 kota global mengungkapkan disparitas: di wilayah ber-PDB rendah seperti Afrika, Asia Tenggara, dan India, baterai lama bisa kehilangan 25 persen umur pakai, dibandingkan 15 persen di Eropa dan Amerika Utara. Baterai baru mungkin hanya mengalami kehilangan 4 persen di wilayah tersebut, tetap stabil di tempat lain. Model-model tersebut mengasumsikan adopsi teknologi yang setara di seluruh dunia tetapi mengecualikan variabel seperti stabilitas infrastruktur atau perubahan powertrain. DOI: 10.1038/s41558-026-02579-z