Bank-bank asing mengklasifikasikan ulang transaksi arbitrase yang terdampak oleh pengetatan spekulasi rupee oleh Reserve Bank of India (RBI) sebagai lindung nilai untuk arus masuk modal dari induk perusahaan mereka di luar negeri. Strategi ini bertujuan untuk menghindari batas posisi terbuka bersih sebesar $100 juta yang ditetapkan regulator. Pejabat RBI mungkin akan memeriksa perubahan ini berdasarkan linimasa dan dokumentasi yang ada.
Bank-bank asing di India mulai mengklasifikasikan ulang kontrak forward USD-INR dan posisi arbitrase tertentu sebagai respons terhadap pembatasan terbaru RBI atas spekulasi rupee. Transaksi ini, yang sebelumnya dianggap sebagai arbitrase spekulatif, kini diberi label sebagai lindung nilai yang terkait dengan transfer modal dari perusahaan induk di luar negeri. RBI memberlakukan batas posisi terbuka bersih sebesar $100 juta untuk mengekang spekulasi berlebihan di pasar non-deliverable forwards dan pasar forward domestik. Klasifikasi ulang ini bertujuan untuk mematuhi aturan baru sekaligus tetap mempertahankan eksposur. Namun, bank sentral berencana untuk meneliti langkah-langkah tersebut dengan memeriksa dokumentasi dan linimasa transaksi untuk memastikan legitimasinya. Tidak ada bank spesifik yang disebutkan dalam laporan tersebut, namun praktik ini melibatkan lembaga-lembaga global yang aktif di pasar mata uang India.