Hachette Book Group telah membatalkan rencana perilisan di Amerika Serikat dan menghentikan edisi Inggris novel horor Shy Girl karya Mia Ballard menyusul investigasi New York Times yang menduga adanya teks yang dibuat oleh kecerdasan buatan (AI). Judul yang diterbitkan sendiri ini mengundang kecurigaan pembaca atas prosa yang berulang-ulang dan pola bahasa. Penulis Ballard menyangkal penggunaan AI secara pribadi, menyalahkan editor atau kenalannya, dan mengatakan bahwa skandal tersebut telah menghancurkan kesehatan mentalnya.
Novel horor Mia Ballard, Shy Girl, diterbitkan secara mandiri pada Februari 2025 dan menjadi perbincangan hangat di media sosial. Penerbit Orbit dari Hachette mengakuisisinya pada bulan Juni lalu untuk penerbitan tradisional, merilisnya di Inggris pada bulan November 2025 dengan peluncuran di Amerika Serikat yang direncanakan pada musim semi 2026. Kekhawatiran pembaca segera muncul tentang prosa yang mirip AI, termasuk kata-kata yang diulang-ulang seperti 'edge' (84 kali) dan 'sharp' (159 kali), yang disorot dalam video YouTube oleh frankie's shelf yang telah ditonton sebanyak 1,2 juta kali. Sebuah posting Reddit pada Januari 2026 oleh seorang editor buku yang mengaku sebagai analisis dan analisis melalui alat pendeteksi AI Pangram (dijalankan oleh Max Spero) mematok novel tersebut pada 78% yang dihasilkan oleh AI, dengan mengutip pola linguistik, kesenjangan logis, kata sifat melodramatis, dan ketergantungan yang berlebihan pada aturan tiga.
Pada hari Kamis, New York Times menerbitkan investigasi oleh Alexandra Alter yang menganalisis bagian-bagian dengan alat pendeteksi AI, yang mengonfirmasi masalah ini. Hachette segera membatalkan perilisan di Amerika Serikat, menghapus buku tersebut dari situs webnya, dan menarik edisi Inggris. "Hachette tetap berkomitmen untuk melindungi ekspresi kreatif dan penceritaan yang orisinil," kata penerbit tersebut, dengan catatan bahwa penulis harus mengungkapkan penggunaan AI.
Ballard mengatakan kepada Times bahwa ia tidak menggunakan alat AI secara pribadi dan menyarankan seorang teman atau editor untuk menggunakannya. "Nama saya hancur karena sesuatu yang bahkan tidak saya lakukan secara pribadi," tulisnya, seraya menambahkan bahwa kontroversi ini telah merusak kesehatan mentalnya dan dia sedang menempuh jalur hukum. Ini menandai pertama kalinya penerbit besar secara terbuka menarik sebuah judul karena kecurigaan terhadap AI.
Insiden ini menggarisbawahi tantangan yang semakin besar dalam penerbitan di tengah kebangkitan AI, terutama dalam penerbitan mandiri di mana 'kotoran AI' berkembang biak di platform seperti Amazon. Para ahli menyoroti perlunya verifikasi keaslian penulis yang lebih baik.