Tema Met Gala 2026 berpusat pada pameran 'Costume Art,' yang mempertanyakan apakah mode dapat dikategorikan sebagai seni. Para desainer telah lama mengambil inspirasi dari seniman murni seperti Botticelli, Van Gogh, dan Kahlo. Acara penelusuran seni di panggung peragaan sebelum acara utama menyoroti referensi historis tersebut menjelang pembukaan di Met.
Hubungan mendalam antara mode dan seni murni menjadi inti dari Met Gala tahun ini, yang berkaitan dengan pameran 'Costume Art.' Pameran tersebut menjawab perdebatan lama mengenai status mode sebagai seni, dengan menyoroti bagaimana para desainer telah mereferensikan maestro seperti Sandro Botticelli, Vincent van Gogh, dan Frida Kahlo dalam karya mereka. Detail yang diterbitkan oleh Vogue pada 1 Mei mencatat bahwa tema acara ini menegaskan interaksi antara yang abadi dan yang sementara dalam seni dan mode. Desainer seperti Madame Grès dan Madeleine Vionnet menyalurkan keindahan klasik melalui teknik draperi dan potongan bias, sementara Elsa Schiaparelli berkolaborasi dengan kaum Surealis. Yves Saint Laurent memberikan penghormatan kepada Piet Mondrian, Ballets Russes, Georges Braque, Vincent van Gogh, dan Pablo Picasso, termasuk pengakuan terhadap Schiaparelli sendiri. Marc Jacobs, selama masa jabatannya di Louis Vuitton pada tahun 2000-an, bermitra dengan seniman Stephen Sprouse, Takashi Murakami, dan Richard Prince, yang membuka jalan bagi kolaborasi seni dan mode modern. Artikel tersebut mencantumkan pengaruh tambahan termasuk Andy Warhol, Claude Monet, Gustav Klimt, Jackson Pollock, Leonardo da Vinci, dan Katsushika Hokusai, di antara yang lainnya. Momen-momen di panggung peragaan busana ini berfungsi sebagai pengantar sejarah seni bagi pencinta mode menjelang Met Gala.