Penelitian klinis terbaru menunjukkan bahwa ekstrak propolis dari HDI Propoelix dapat mendukung sistem imun pada pasien dengan gangguan metabolik seperti diabetes, obesitas, dan hipertensi. Studi ini dilakukan selama 30 hari di RS Soerojo Magelang dan dipresentasikan pada seminar di Jakarta pada 7 Maret 2026. Para ahli menekankan bahwa suplemen ini hanya sebagai pelengkap, bukan pengganti terapi medis.
Penelitian klinis ke-25 dari HDI Propoelix, yang dipublikasikan baru-baru ini, mengeksplorasi manfaat ekstrak propolis bagi pasien dewasa dengan kondisi metabolik. Studi ini dilakukan di RS Soerojo Magelang, salah satu rumah sakit vertikal di bawah Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dan melibatkan pekerja kantoran berusia 25-60 tahun, termasuk mereka yang mengalami obesitas dan diabetes.
Selama 30 hari, penelitian tersebut menemukan bahwa penggunaan suplemen propolis menjaga keseimbangan sistem imun tanpa meningkatkan risiko peradangan. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan sel darah putih fase akut lebih siap merespons infeksi ringan, sementara profil trombosit dan neutrofil tetap stabil, serta indikator inflamasi tidak naik.
Pada konferensi pers di Jakarta Pusat dan Seminar Kesehatan Nasional bertajuk 'Beyond the Fundamentals of Propolis Science: Clinical Evidence Behind HDI Propoelix' pada Sabtu, 7 Maret 2026, Dr. H. Harli Amir Mahmudji, Sp.PD-KEMD, selaku peneliti utama, menyatakan, "Pada pasien kronis, sistem imun tetap seimbang dan risiko peradangan tidak meningkat." Ia menegaskan, "Ini sebagai pelengkap, bukan pengganti terapi medis."
Dr. Muhamad Sahlan, S.Si., M.Eng., dari Universitas Indonesia, menambahkan, "Propolis merupakan salah satu bahan alam yang memiliki kompleksitas senyawa bioaktif yang sangat tinggi. Tantangannya adalah bagaimana memastikan standardisasi dan pembuktian ilmiahnya agar dapat diterima dalam praktik medis modern. Upaya seperti yang dilakukan HDI menjadi penting untuk menjembatani sains dasar dengan aplikasi klinis."
Para peneliti mengakui keterbatasan studi ini, seperti durasi singkat dan partisipan terbatas, sehingga diperlukan penelitian lanjutan dengan sampel lebih besar. Harli juga menyoroti pentingnya pola makan bergizi seimbang dan olahraga rutin sebagai cara utama menjaga imunitas, dengan suplemen hanya berperan sebagai adjuvan.