BNPT ungkap 21.199 konten radikal sepanjang 2025

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menemukan 21.199 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme di media sosial sepanjang tahun 2025. Sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar konten radikal melalui game online dan platform digital, menjadi sasaran rekrutmen terorisme. BNPT menekankan upaya kontradikalisasi untuk melindungi anak-anak dari ancaman ini.

Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengungkapkan temuan signifikan terkait penyebaran konten radikal di ruang siber sepanjang 2025. Berdasarkan data dari Satgas Kontraradikalisasi, yang melibatkan BNPT, Badan Intelijen Negara (BIN), Badan Intelijen Strategis Tentara Nasional Indonesia (BAIS TNI), Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemenkomdigi), serta Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), terdapat 21.199 konten bermuatan intoleransi, radikalisme, dan terorisme.

Konten-konten ini tersebar di berbagai platform, dengan 14.314 di Meta (Facebook dan Instagram), 1.367 di TikTok, serta 1.220 di X. "Terhadap konten-konten tersebut Satgas Kontraradikalisasi telah melakukan upaya pemutusan akses kepada Komdigi," kata Kepala BNPT Komisaris Jenderal Polisi (Purn.) Eddy Hartono dalam pernyataan pers akhir tahun di Jakarta pada 30 Desember 2025.

Selain itu, BNPT menemukan 137 pelaku aktif menyalahgunakan ruang siber untuk aktivitas terorisme, 32 pelaku terpapar secara daring dan bergabung dengan jaringan, serta 17 pelaku melakukan aksi terorisme di digital tanpa keterlibatan langsung jaringan, yang dikenal sebagai self-radicalization.

Aspek yang paling mengkhawatirkan adalah penargetan anak-anak. Sebanyak 112 anak di 26 provinsi terpapar konten radikal melalui game online atau media sosial. Mereka mengalami kerentanan psikologis dan berpotensi menjadi lone actor tanpa pertemuan fisik. Rata-rata usia anak terpapar adalah 13 tahun, dengan rentang 10 hingga 18 tahun—jauh lebih muda dibandingkan pelaku terorisme periode 2014-2019 yang berusia 28-35 tahun.

Eddy Hartono menekankan, "Anak-anak yang terpapar menjadi perhatian serius negara." BNPT bekerja sama dengan Tim Koordinasi Perlindungan Khusus bagi Anak Korban Jaringan Terorisme untuk rehabilitasi, pendampingan psikososial, dan perlindungan hak anak. Fenomena ini menunjukkan evolusi rekrutmen terorisme yang semakin memanfaatkan ruang digital, termasuk baiat mandiri tanpa pertemuan langsung.

Artikel Terkait

Indonesian police officers arresting suspects during a raid on an online gambling syndicate at a Jakarta tower.
Gambar dihasilkan oleh AI

Polri arrests 321 in international online gambling syndicate raid at Hayam Wuruk

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Indonesian National Police arrested 321 people linked to an international online gambling syndicate at Hayam Wuruk Plaza Tower in West Jakarta on Saturday, May 9, 2026.

Around 200 digital platforms have submitted self-assessment reports on child safety risk profiles to the Indonesian government. Minister of Communication and Digital Meutya Hafid announced this in Jakarta on Thursday.

Dilaporkan oleh AI

Indonesia's Minister of Communications and Digital, Meutya Hafid, called on young people, especially university graduates, to safeguard the country's digital space amid the post-truth era. She highlighted their role as agents of digital literacy and ambassadors for the PP Tunas regulation to protect children from risky content. The remarks were made in Jakarta on April 26, 2026.

Yayasan Kekuatan Cinta Indonesia launched a training program for children in Desa Keling, Kediri Regency, on 22 May 2026.

Dilaporkan oleh AI

Equality minister Nina Larsson (L) presented a legislative proposal on Monday for digital bans preventing those convicted of grooming children online from accessing social media.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak