Matematikawan menyatukan hukum fisika fluida setelah 125 tahun

Pada 2025, tim yang dipimpin Zaher Hani di University of Michigan memecahkan salah satu masalah lama David Hilbert, menghubungkan deskripsi matematis fluida di berbagai skala secara mulus. Terobosan ini menghubungkan perilaku partikel mikroskopis dengan aliran makroskopis seperti air di wastafel. Pencapaian ini memanfaatkan teknik dari teori medan kuantum dan menjanjikan wawasan tentang dinamika atmosfer dan samudra.

David Hilbert, seorang matematikawan terkemuka, merumuskan 23 masalah kunci pada 1900 yang membentuk masa depan bidang tersebut. Di antaranya, yang keenam menantang peneliti untuk menyimpulkan hukum yang mengatur perilaku fluida dari aksioma matematis dasar. Selama lebih dari satu abad, fisikawan bergantung pada tiga kerangka terpisah: satu untuk skala mikroskopis partikel individu, satu lagi untuk ranah mesoskopik kumpulan partikel, dan yang ketiga untuk fluida makroskopis seperti air mengalir.

Zaher Hani dan rekan-rekannya di University of Michigan akhirnya menjembatani deskripsi-deskripsi ini pada 2025, 125 tahun setelah daftar Hilbert. Solusi mereka menyatukan persamaan yang mengatur gerakan partikel dalam fluida, menciptakan fondasi matematis yang kohesif. Tim tersebut mengadaptasi metode berbasis diagram yang awalnya dikembangkan oleh fisikawan Richard Feynman untuk teori medan kuantum, menerapkannya pada dinamika fluida.

Upaya ini memuncakkan proyek lima tahun, dengan makalah kunci dirilis lebih awal pada 2025. "Kami mendengar dari banyak orang mengenai hasil tersebut, terutama dari para pemimpin di bidang yang telah memeriksa pekerjaan dengan sangat hati-hati," kata Hani. Preprint tersebut kini dijadwalkan untuk diterbitkan di jurnal matematika terkemuka.

Di luar signifikansi matematisnya, pekerjaan ini dapat meningkatkan model fluida kompleks di atmosfer dan samudra. Tim Hani sedang memperluas pendekatan tersebut ke fluida kuantum, di mana perilaku partikel menjadi semakin rumit.

Artikel Terkait

Irish mathematician William Rowan Hamilton developed a framework in the 1820s and 1830s that linked the paths of light rays and moving particles, an idea that later proved crucial to quantum mechanics. Born 220 years ago, Hamilton's work, including carving a formula on Dublin's Broome Bridge in 1843, built on earlier physics but revealed deeper connections only understood a century later. This insight helped shape modern theories of wave-particle duality.

Dilaporkan oleh AI

A new analysis from Queen Mary University of London proposes that the universe's physical constants occupy a narrow range allowing liquids to flow properly inside living cells.

For the first time, researchers have demonstrated light behaving like the quantum hall effect, a phenomenon previously observed only in electrons. Photons now drift sideways in quantized steps determined by fundamental constants. This breakthrough could enhance precision measurements and advance quantum photonic technologies.

Dilaporkan oleh AI

New research reinterprets the Einstein-Rosen bridge as a connection between two directions of time rather than a spatial shortcut. The study suggests this view could resolve the black hole information paradox and point to a universe that existed before the Big Bang. It was published in the journal Classical and Quantum Gravity.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak