McDonald's telah menarik iklan liburan yang dibuat AI dan bermasalah untuk Belanda setelah kritik luas secara online atas visualnya yang 'tanpa jiwa'. Iklan berdurasi 30 detik yang menampilkan kekacauan liburan dengan parodi lagu 'It's the Most Wonderful Time of the Year' dituduh kurang autentik dan berkualitas. Insiden ini menyoroti kekhawatiran yang meningkat tentang AI dalam periklanan di tengah lonjakan alat semacam itu.
McDonald's baru-baru ini meluncurkan iklan Natal berdurasi 30 detik secara eksklusif untuk pasar Belanda, menggambarkan serangkaian kekacauan bertema liburan. Iklan tersebut memparodikan lagu 'It's the Most Wonderful Time of the Year' dengan menyajikannya sebagai 'waktu terburuk dalam setahun'. Dibuat dengan AI, video tersebut menampilkan klip pendek yang dijahit, potongan lompatan kasar, teks yang sulit dibaca, dan detail tidak alami yang dengan cepat diidentifikasi penonton sebagai ciri khas AI generatif.
Reaksi balik datang dengan cepat dan intens di online, dengan kritikus menyebut iklan itu 'tanpa jiwa' dan kacau. Sebagai tanggapan, McDonald's menghapus video dari halaman resminya, meskipun agensi pemasaran The Sweetshop Film masih menyimpannya di situs web mereka. Langkah ini datang saat korporasi besar semakin mengadopsi AI untuk pembuatan konten, meskipun ada penolakan publik.
Insiden ini mirip dengan kontroversi serupa, seperti remake iklan Coca-Cola tahun 1995 'Holidays Are Coming' yang menggunakan AI untuk menghasilkan hewan hutan yang mengikuti truk melalui lanskap bersalju. Meskipun video Coca-Cola menyertakan pengungkapan AI di awal dan elemen seperti generator Veo milik Google, ia juga menuai kritik atas detail bulu tidak realistis dan ekspresi berlebihan. Coca-Cola telah bermitra dengan OpenAI sejak 2023 dan menerapkan strategi AI-first melalui agensi Publicis Group.
Laporan Canva 2025 menunjukkan 94% pemasar memiliki anggaran khusus AI, dengan tiga perempat mengharapkan pertumbuhan. Namun, dengan pendapatan McDonald's 2024 sebesar $25,9 miliar dan Coca-Cola $47,1 miliar, kritikus berpendapat perusahaan-perusahaan ini mampu membayar kreator manusia daripada 'sampah' AI. Contoh sebelumnya termasuk iklan Vogue dengan model AI-generated dari Guess, fotografi AI J.Crew, dan jerapah AI dalam iklan Toys R Us menggunakan Sora dari OpenAI.
Para ahli menekankan perlunya transparansi, seperti label AI, untuk membantu konsumen membedakan konten yang dihasilkan. Meskipun AI menjanjikan efisiensi, ia menimbulkan ketakutan kehilangan pekerjaan di bidang kreatif, seperti terlihat pada pemecatan massal Amazon baru-baru ini. Reaksi balik ini menjadi pelajaran peringatan bagi AI dalam periklanan, menekankan ketegangan antara inovasi dan keaslian.