Peneliti Meksiko kembangkan antibiotik dari racun dan cabai

Para ilmuwan di Universitas Otonomi Nasional Meksiko telah menciptakan tiga antibiotik baru menggunakan senyawa yang diekstraksi dari racun kalajengking dan cabai habanero. Upaya ini menyasar tuberkulosis dan bakteri lain yang telah tumbuh kebal terhadap perawatan saat ini.

Para peneliti dari Universitas Otonomi Nasional Meksiko mengidentifikasi pendekatan baru untuk melawan resistensi bakteri. Mereka memproduksi tiga antibiotik yang diambil langsung dari racun kalajengking dan cabai habanero.

Artikel Terkait

Lab illustration of madecassic acid from Centella skincare inhibiting drug-resistant E. coli bacteria.
Gambar dihasilkan oleh AI

Studi menemukan asam madekassat, senyawa Centella yang digunakan dalam perawatan kulit, dapat menghambat E. coli yang kebal obat dalam uji laboratorium

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Para peneliti di University of Kent, yang bekerja sama dengan University College London, melaporkan bahwa asam madekassat—senyawa yang berasal dari tanaman obat Centella asiatica dan digunakan secara luas dalam perawatan kulit—dapat menghambat pertumbuhan E. coli yang resistan terhadap antibiotik dengan menargetkan sistem pernapasan bakteri yang tidak ditemukan pada manusia atau hewan lain.

Para ilmuwan di Weizmann Institute of Science di Israel telah memodifikasi tanaman tembakau untuk memproduksi lima senyawa psikedelik kuat yang biasanya ditemukan dalam jamur, tanaman, dan katak. Teknik ini menggunakan perubahan genetik sementara untuk menciptakan sumber berkelanjutan bagi penelitian dan potensi pengobatan. Para ahli mengatakan hal ini dapat menyederhanakan produksi dibandingkan dengan sintesis kimia atau pemanenan dari alam.

Dilaporkan oleh AI

Para peneliti di Tokyo University of Science telah menemukan bahwa kombinasi senyawa tanaman umum dari mint, eukaliptus, dan cabai secara dramatis meningkatkan efek antiinflamasi pada sel imun. Pasangan tertentu memperkuat respons hingga beberapa ratus kali lipat dibandingkan penggunaan secara individu. Temuan ini, yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients, menunjukkan potensi pendekatan diet baru untuk melawan peradangan kronis.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak