Sejak serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari 2026, yang meningkat menjadi perang udara regional, lebih dari 21.000 penerbangan telah dibatalkan di pusat-pusat Teluk termasuk Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, menjebak puluhan ribu orang. Setelah pemulihan operasi terbatas awal pada 2 Maret, bandara utama tetap dibatasi hingga 3-4 Maret, dengan maskapai seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways memprioritaskan repatriasi di tengah seruan evakuasi pemerintah.
Perang udara, yang meningkat selama akhir pekan dengan serangan yang memicu pembalasan Iran, kini telah mengganggu penerbangan selama hampir seminggu. Data Flightradar24 menunjukkan 21.300 pembatalan di tujuh bandara kunci sejak 28 Februari, dengan Dubai International—bandara tersibuk di dunia untuk lalu lintas internasional—sangat dibatasi untuk hari keempat pada 3 Maret. Progress on repatriations includes 60 UAE flights carrying 17,498 passengers. Qatar Airways extended Doha suspensions until March 6, pending airspace clearance. The US State Department issued 'DEPART NOW' alerts for Americans in Qatar, Bahrain, UAE, and others, organizing military/charter evacuations for about 3,000 citizens. This shutdown rivals COVID-19 impacts, hitting cargo worth billions and forcing Europe-Asia route narrowings. Oil prices rose 30% year-to-date, pressuring fuel costs. Airlines like British Airways, Lufthansa, and Air France canceled services, though Virgin Atlantic resumed some Dubai-London flights on March 4. Stranded travelers like chef Odies Turner in Doha vent frustration: “Mereka bilang, ‘Keluarlah’, tapi bagaimana caranya ketika ruang udara tertutup?” President Trump suggested the conflict could last weeks, delaying aviation recovery.