Psikolog: Anak tengah rentan merasa terabaikan

Psikolog Amalia Indah Permata menyatakan bahwa anak tengah berisiko lebih besar merasa terabaikan dibandingkan saudara sulung dan bungsu karena posisi mereka dalam struktur keluarga. Hal ini dijelaskan melalui teori urutan kelahiran Alfred Adler, yang menyoroti potensi rendahnya harga diri dan kebahagiaan anak tengah. Pembahasan ini ramai setelah kasus pembunuhan keluarga di Warakas, Jakarta Utara.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog Klinis Amalia Indah Permata dari Dinamis Biro Psikologi menyatakan bahwa anak tengah memiliki risiko lebih besar merasa diperlakukan berbeda dibandingkan saudara sulung dan bungsu. "Anak tengah berisiko merasa mendapat perlakuan berbeda dari kakak dan adik. Kakak dan adik seolah memiliki peran yang lebih jelas, si sulung dan si bungsu, dibanding dirinya sehingga merasa keduanya lebih diperhatikan oleh orang tua," katanya.

Menurut teori urutan kelahiran Alfred Adler, anak tengah cenderung merasa terabaikan dan tidak spesial, yang dapat menurunkan harga diri mereka. Penelitian menunjukkan tingkat kebahagiaan dan harga diri anak tengah lebih rendah, serta mereka sering merasa kurang dekat dengan keluarga, mendorong pencarian identitas di luar rumah. Namun, Amalia menekankan bahwa urutan kelahiran bukan faktor tunggal; pola asuh orang tua, kondisi psikologis, jenis kelamin, jarak usia, dan latar belakang budaya juga berperan. "Pengaruh birth order tidak selalu konsisten karena banyak faktor lain yang terlibat seperti pola asuh orang tua, kondisi psikologis orang tua, jenis kelamin, jarak usia, serta latar belakang budaya dan keluarga," ujarnya.

Pembahasan ini muncul setelah kasus pembunuhan satu keluarga di Warakas, Jakarta Utara, di mana pelaku diduga anak tengah yang merasa diperlakukan tidak adil. Di media sosial, banyak warganet berbagi pengalaman serupa tentang perasaan diabaikan.

Untuk mencegah rasa pilih kasih, Amalia menyarankan orang tua menerapkan kasih sayang dan kontrol seimbang sesuai kebutuhan anak. "Terlepas dari berapa pun jumlah anak, orang tua perlu memiliki kontrol dan kasih sayang yang seimbang pada setiap anak. Adil dan bijak bukan berarti semua perlakuan harus sama, namun sesuai dengan kondisi dan kebutuhan anak," katanya. Saran termasuk menyediakan waktu khusus minimal 15 menit per hari per anak, membangun komunikasi hangat, memvalidasi emosi seperti cemburu, dan konsisten menerapkan aturan sambil menunjukkan cinta kepada masing-masing anak. "Validasi emosi yang anak rasakan. Pada keluarga dengan lebih dari dua anak, rasa cemburu bisa muncul karena perbedaan kebutuhan. Akui dulu perasaan anak, lalu beri pengertian saat anak sudah lebih tenang," tambahnya.

Artikel Terkait

A child in a lab using eye-tracking to view emotional faces, with mother present, illustrating a study on children's depression symptoms linked to maternal history.
Gambar dihasilkan oleh AI

Study links children’s eye-tracking patterns to depression symptoms, with differences tied to maternal depression history

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

A Binghamton University-led study suggests that changes in how children look at happy and sad faces over time track with depressive symptoms—and that the pattern differs depending on whether their mothers have a history of major depressive disorder.

A new Nordic health report from insurance company If shows that Swedish families with children have the hardest time balancing everyday life compared to neighboring countries.

Dilaporkan oleh AI

BRIS warns that children's vulnerability increases during the ten-week summer vacation. The organization urges adults to pay extra attention and dare to ask questions.

Families with twins face major differences in how much time older siblings receive in preschool. In Varberg only the legal minimum is given while several other municipalities automatically offer extra time.

Dilaporkan oleh AI

Esti Nurwanti stresses that children need balanced nutrient intake according to age to support growth and focus, not merely eating large amounts.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak