Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyatakan penyelidikan terhadap serangan yang menewaskan tiga personel Indonesia di Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) sedang berlangsung dan hasilnya akan diumumkan segera. Juru bicara PBB Stephane Dujarric menekankan bahwa serangan tersebut tidak dapat diterima dan harus dipertanggungjawabkan. Sementara itu, TNI menanti hasil investigasi yang fokus pada proyektil artileri atau ranjau darat.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memastikan penyelidikan terhadap serangan yang menyebabkan gugurnya tiga personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di UNIFIL Lebanon selatan sedang berlangsung. Juru Bicara Sekretaris Jenderal PBB Stephane Dujarric menyatakan pada Rabu (1/4), “Penyelidikan tengah berlangsung dan, meski dengan situasinya menantang, kami yakin dapat segera menyampaikan informasi terbaru terkait hasil penyelidikannya."
Para ahli sedang memeriksa bukti fisik di lokasi dan berkomunikasi dengan pihak terkait, meskipun sempat terhambat oleh kebutuhan meredakan ketegangan. Dujarric menambahkan bahwa PBB berkomitmen mendapatkan fakta sebenar-benarnya. Wakil Sekretaris Jenderal untuk Operasi Perdamaian Jean-Pierre Lacroix terus memantau keselamatan personel.
Insiden pertama terjadi pada 29 Maret ketika Praka Farizal Rhomadhon tewas akibat tembakan artileri dekat Adchit Al Qusayr. Keesokan harinya, 30 Maret, Kapten Inf Zulmi Aditya Iskandar dan Sertu Muhammad Nur Ichwan gugur saat mengawal konvoi yang diserang. Komandan Pusat Misi Pemeliharaan Perdamaian TNI Mayjen Iwan Bambang Setiawan menyebut dugaan penyebab meliputi hantaman proyektil artileri atau ranjau darat aktif, namun belum pasti dari pihak Israel atau Hizbullah.
Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto mengumumkan kenaikan pangkat luar biasa anumerta, medali Dag Hammarskjold, gaji lanjut 12 bulan, pensiun janda, serta santunan miliaran rupiah untuk masing-masing keluarga. Dua prajurit lain luka-luka: Lettu Inf Sulthan Wirdean Maulana dan Praka Deni Rianto.