Pengamat nilai agresi AS-Israel ke Iran uji sikap Indonesia

Serangan udara AS dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang menewaskan Ayatollah Ali Khamenei memicu reaksi di Indonesia. Pengamat menilai ini sebagai ujian bagi sikap tegas pemerintah dalam mewakili Global South. Berbagai pihak mendesak evaluasi keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BoP).

Pada akhir Februari 2026, Amerika Serikat (AS) dan Israel melancarkan serangan udara ke wilayah Iran, yang menyebabkan kematian pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Serangan ini terjadi di tengah proses perundingan, menurut pakar Timur Tengah dari Universitas Indonesia (UI), Prof Yon Machmudi. Ia menyatakan bahwa protes dari masyarakat sipil, termasuk Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, wajar karena ketidakadilan yang dilakukan kekuatan Barat.

Prof Yon Machmudi menekankan bahwa suara dunia kurang keras mengecam AS dan Israel, sehingga organisasi Islam seperti NU dan Muhammadiyah merasa terpanggil untuk bersuara. "Statement dari negara-negara di dunia tampaknya tidak keras mengecam terhadap Amerika dan juga Israel. Sehingga masyarakat Islam, seperti NU dan Muhammadiyah, terpanggil untuk menyuarakan hal ini," ujarnya kepada Republika.

Di sisi lain, pakar hubungan internasional UI, Broto Wardoyo, memberikan saran jika Indonesia tetap bertahan di BoP, organisasi yang dibentuk Presiden AS Donald Trump. Ia menyarankan memastikan rekonstruksi Jalur Gaza berpihak pada rakyat setempat dan aturan keterlibatan Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) jelas. Indonesia telah menyatakan empat batasan nasional: non-kombatan, tidak melucuti senjata Hamas, tidak konfrontasi langsung, terbatas di Gaza, dan disetujui Otoritas Palestina.

Wakil Ketua Umum Partai Golkar, Idrus Marham, mendesak pemerintah mengambil sikap tegas sebagai penegasan prinsip bebas aktif. "Pernyataan tegas tidak setuju atas penyerangan tersebut penting, sebagai peneguhan prinsip politik luar negeri kita," katanya. Ia menolak keluar dari BoP secara impulsif, menekankan peran Indonesia sebagai negara Muslim terbesar dan anggota G20.

Mantaa Menlu Hassan Wirajuda menyatakan Presiden Prabowo Subianto akan mengevaluasi keanggotaan Indonesia di BoP pasca-pertemuan pada 3 Maret 2026. "Keputusan kan belum. Pasti beliau akan mengevaluasi dan mengambil keputusan yang tepat pada waktunya," ujarnya. Evaluasi mempertimbangkan komitmen pendanaan dan pengiriman pasukan, dengan opsi keluar jika tidak selaras dengan UUD 1945.

Global South, yang mencakup negara berkembang di Asia dan Afrika, diharapkan Indonesia wakili lebih kuat melawan intervensi seperti ini, menurut Prof Yon Machmudi.

Artikel Terkait

Indonesian leaders Yahya Cholil Staquf, Sugiono, Listyo Sigit Prabowo, and Pramono Anung at press conference condemning US-Israel attacks on Iran and preparing for impacts.
Gambar dihasilkan oleh AI

Indonesian Leaders Respond to US-Israel Attacks on Iran

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

PBNU Chairman Yahya Cholil Staquf condemned the US and Israel attacks on Iran that killed Supreme Leader Ali Khamenei, while urging Iran to stop revenge actions. Foreign Minister Sugiono offered Indonesia's mediation for de-escalation. Police Chief Listyo Sigit Prabowo and Jakarta Governor Pramono Anung prepared for domestic security and economic impacts.

The US and Israel's military aggression against Iran at the end of February 2026 has raised doubts about the credibility of the Board of Peace (BoP). DPR member TB Hasanuddin stated that the attack proves the anti-peace nature of BoP leaders, while an international relations expert views it as a test for the global peace narrative. The Indonesian government is urged to take a firm stance and leverage its BoP membership for diplomacy.

Dilaporkan oleh AI

Indonesia's Majelis Ulama Indonesia (MUI) issued nine statements on the US and Israel military attack on Iran, including condemnation and calls for peace during Ramadan. Iran's Embassy in Jakarta condemned the strikes as a violation of the UN Charter, while Golkar's Deputy Chairman Idrus Marham called it a threat to world peace that killed Iran's Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei.

The United States and Israel launched major airstrikes on Iran, killing Supreme Leader Ayatollah Ali Khamenei. Iran retaliated with missiles targeting Israel and Gulf states, while Hezbollah fired rockets from Lebanon. India expressed concern over regional instability and directed officials to ensure the safety of its citizens.

Dilaporkan oleh AI

President Prabowo Subianto is scheduled to hold an audience with leaders of Islamic organizations and pesantren at Istana Negara, Jakarta, on Tuesday (February 3, 2026) afternoon. The meeting aims to explain the government's decision to join the Board of Peace initiated by US President Donald Trump, amid controversy over a Rp 16.7 trillion fee.

The United States and Israel launched a joint attack on Iran on February 28, 2026, confirming the death of Supreme Leader Ali Khamenei. The operation, dubbed 'Epic Fury,' aimed to degrade Iran's nuclear and military capabilities, prompting retaliatory missile strikes on Israel and US bases in the region. The conflict has led to airspace closures and fears of escalation in the Middle East.

Dilaporkan oleh AI

On the tenth day of the war with the US and Israel, Iran's Assembly of Experts named Mojtaba Khamenei, son of the late Ayatollah Ali Khamenei, as the new supreme leader. Hours later, Iran fired missiles at Israel—the first under the new leadership—prompting further escalations, international reactions, and soaring oil prices.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak