Wei Zhao perkenalkan ide CRISPR untuk flu di simposium

Pada Simposium Aliansi Penelitian Pandemi Oktober, peneliti Wei Zhao mempresentasikan konsep inovatif menggunakan CRISPR untuk memerangi influenza. Ide tersebut menargetkan proses replikasi virus, berpotensi menghentikan penyebarannya. Perkembangan ini menyoroti upaya berkelanjutan dalam penelitian pengeditan gen terhadap strain flu yang tak kenal ampun.

Dalam presentasi kepada virolog dari Tiongkok, Australia, dan Singapura, Wei Zhao membagikan ide mencolok di Simposium Aliansi Penelitian Pandemi yang diadakan pada Oktober. Konsep tersebut memanfaatkan CRISPR, alat pengeditan gen yang kuat, untuk mengatasi kemampuan virus influenza mereplikasi dalam sel. Seperti yang dirinci dalam artikel WIRED yang diterbitkan pada 5 Januari 2026, penelitian inovatif ini bertujuan menghentikan flu dengan mengganggu mekanisme virus.

Simposium tersebut menyatukan para ahli untuk membahas kesiapan pandemi, dan pengenalan Zhao menekankan potensi intervensi genetik dalam virologi. Kata kunci terkait penelitian meliputi genetika, kesehatan, flu, CRISPR, penelitian, sel, dan virus. Meskipun spesifik ide tersebut masih pengantar, hal itu menunjukkan kemajuan menjanjikan dalam strategi antiviral terhadap penyakit yang memengaruhi jutaan orang setiap tahunnya.

Perkembangan ini terjadi di tengah minat global terhadap alat seperti CRISPR untuk mengobati penyakit menular. Artikel tersebut menekankan sifat tak kenal ampun influenza dan harapan bahwa pendekatan bertarget seperti itu dapat meningkatkan pertahanan masa depan.

Artikel Terkait

Scientific illustration of bird flu virus PB1 gene enabling replication at fever temperatures, contrasting with human flu, highlighting pandemic concerns.
Gambar dihasilkan oleh AI

Gen kunci flu membantu virus burung tahan suhu demam, temuan studi

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi

Ilmuwan dari Universitas Cambridge dan Glasgow telah menunjukkan mengapa banyak virus flu burung dapat terus bereplikasi pada suhu seperti demam yang biasanya menghambat flu manusia. Studi di Science mengidentifikasi gen PB1 virus sebagai kunci toleransi panas ini, menimbulkan kekhawatiran risiko pandemi jika gen tersebut berpindah ke strain manusia.

Tim internasional yang dipimpin ETH Zurich dan melibatkan peneliti di Jepang telah menggunakan teknik pencitraan resolusi tinggi baru untuk menyaksikan secara langsung virus influenza menembus sel manusia. Penelitian ini menunjukkan bahwa sel secara aktif berinteraksi dengan virus, membantu menariknya masuk dalam proses yang menyerupai berselancar di sepanjang membran sel, dan dapat menginformasikan pengembangan terapi antiviral yang ditargetkan.

Dilaporkan oleh AI

Ilmuwan China He Jiankui, yang menjalani hukuman penjara karena menciptakan bayi pertama di dunia yang diedit gennya, kini berintensi mengejar pekerjaan serupa untuk memerangi penyakit Alzheimer. Ia telah mengkritik upaya Silicon Valley di bidang tersebut sebagai 'eksperimen eugenik Nazi'. Perkembangan ini menghidupkan kembali perdebatan etis dalam bioteknologi.

Para ilmuwan di Virginia Tech melaporkan bahwa penyetelan jalur molekuler spesifik dengan alat berbasis CRISPR meningkatkan memori pada tikus yang lebih tua dalam dua studi yang ditinjau sejawat, menunjukkan kemungkinan rute untuk mengatasi penurunan kognitif terkait usia.

Dilaporkan oleh AI Fakta terverifikasi

Peneliti di Gene Editing Institute ChristianaCare melaporkan bahwa menonaktifkan gen NRF2 dengan CRISPR memulihkan sensitivitas kemoterapi pada model kanker paru-paru non-kecil skuamosa dan memperlambat pertumbuhan tumor, dengan manfaat terlihat bahkan ketika hanya sebagian kecil sel tumor yang diedit. Karya ini diterbitkan secara online pada 13 November 2025 di Molecular Therapy Oncology.

Health Minister Ximena Aguilera presented to the Chamber of Deputies measures to tackle the H3N2 influenza threat, dubbed supergripe, after cases were confirmed in Peru. The government plans to advance the vaccination campaign to safeguard vulnerable groups and prevent overloads in the health system. Officials emphasize preparation drawing from past experiences like Covid-19.

Dilaporkan oleh AI

Building on recent surges in Europe and the US, the World Health Organization has issued a formal alert for the 2025-2026 flu season due to the rapid global spread of influenza A(H3N2) subclade K (J.2.4.1) since August 2025. While not more severe, its advance prompts preparations in the Northern Hemisphere and anticipation in the Southern Hemisphere, including Brazil.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak