Komentator konservatif Ben Shapiro telah menulis penghormatan untuk Charlie Kirk, pendiri Turning Point USA, yang dibunuh pada usia 31 tahun. Shapiro merefleksikan kenaikan Kirk dari aktivis muda menjadi tokoh kunci dalam konservatisme Amerika. Artikel tersebut memperingatkan gelombang kekerasan politik yang meningkat di Amerika Serikat.
Ben Shapiro pertama kali bertemu Charlie Kirk pada tahun 2009 di acara donor untuk David Horowitz Freedom Center yang diadakan di hotel The Breakers di Palm Beach, Florida. Kirk, yang berusia 18 tahun dan baru lulus SMA, sedang mempresentasikan organisasinya yang baru didirikan, Turning Point USA, yang memiliki donor benih awal tetapi masih dalam tahap awal.
Shapiro menggambarkan Kirk sebagai bersemangat, agresif, dan sangat cerdas, dengan energi yang hampir membanjiri. Setelah pertemuan mereka, Shapiro berkata kepada temannya Jeremy Boreing, “Anak itu suatu hari akan menjadi ketua Komite Nasional Republik.” Kenyataannya, pengaruh Kirk melampaui prediksi itu. Turning Point USA berkembang menjadi apa yang disebut Shapiro sebagai organisasi politik konservatif paling penting di negara itu.
Kirk mengasah keterampilannya sebagai pembicara publik dan debat, unggul dalam penggalangan dana sambil tetap ramah dan didorong oleh nilai-nilai intinya. Meskipun tidak pernah kuliah, Kirk menjadi orang kepercayaan Presiden Amerika Serikat, wakil presiden, dan konservatif terkemuka lainnya. Klip publik menunjukkannya sebagai advokat kampus yang berapi-api, tetapi secara pribadi, ia bijaksana, fokus membangun koalisi—upaya menantang yang jarang ditandingi.
Energi tak kenal lelah Kirk berakhir mendadak ketika peluru merenggut nyawanya pada usia 31 tahun. Ia meninggalkan istri dan dua anak kecil. Shapiro menggambarkan pembunuhan itu sebagai hukuman atas advokasi penuh semangat Kirk, debat politik, dan upaya meningkatkan bangsa.
Shapiro menempatkan kematian Kirk di tengah lonjakan kekerasan yang lebih luas, menyebut upaya penembakan Presiden Trump, pembunuhan CEO UnitedHealthcare Brian Thompson, dan pembunuhan dua staf kedutaan Israel. Ia berargumen bahwa retorika politik telah meningkat, dengan lawan dipandang sebagai ancaman eksistensial, terutama dari perspektif kiri radikal yang menyamakan ucapan dengan kekerasan.
Sebagai respons, Shapiro menganjurkan empati lebih besar dan doa: mengakui sesama warga Amerika meskipun berbeda pendapat, menjunjung kebebasan konstitusional dengan memperlakukan orang lain sebagai teman, dan menolak kekerasan demi dialog—seperti yang ditunjukkan Kirk. Ia menyimpulkan bahwa penghormatan Kirk terhadap kebebasan berbicara menyebabkan pembunuhannya, mendesak agar kenangannya menginspirasi penyembuhan nasional.