Program pinjaman energi bersih senilai $400 miliar era Biden sebagian besar tetap bertahan meski ada perubahan dari Trump

Menteri Energi pemerintahan Trump, Chris Wright, mengklaim telah merombak Kantor Program Pinjaman Departemen Energi dengan membatalkan pinjaman energi bersih senilai miliaran dolar dari era Biden. Namun, mantan pejabat menegaskan bahwa program tersebut tetap mendukung proyek bebas emisi seperti pembangkit listrik tenaga nuklir dan peningkatan transmisi. Revisi Wright dinilai berlebihan, dengan banyak pinjaman utama yang tetap utuh.

Pada Januari 2026, pemerintahan Trump menargetkan Kantor Program Pinjaman (LPO) Departemen Energi, yang menerima hampir $400 miliar di bawah Undang-Undang Pengurangan Inflasi Biden untuk mendanai infrastruktur energi bersih seperti pembangkit listrik tenaga nuklir, saluran transmisi, dan pabrik baterai. Menteri Energi Chris Wright mengumumkan revisi terhadap sekitar 80% dari portofolio pinjaman senilai $100 miliar di kantor tersebut, menamakannya kembali sebagai program “Pembiayaan Dominasi Energi” agar selaras dengan kebijakan yang ramah bahan bakar fosil. Ia mengklaim telah membatalkan pinjaman yang disalurkan secara terburu-buru pasca-pemilu yang dianggap tidak melayani kepentingan Amerika. Mantan kepala LPO Jigar Shah menyebut angka-angka yang disampaikan Wright sebagai “palsu,” dengan menyatakan bahwa banyak pembatalan justru dimulai oleh peminjam itu sendiri sebelum kemenangan Trump. Jen Downing, mantan penasihat senior, menjelaskan adanya penundaan akibat proses persetujuan baru dan pengurangan staf. Meskipun ada perubahan, proyek-proyek besar tetap berlanjut: pinjaman senilai $1,45 miliar untuk produsen panel surya QCells di Georgia, ekuitas di tambang litium Thacker Pass Nevada, dan pinjaman senilai $26,5 miliar kepada Southern Company untuk peningkatan nuklir, baterai, saluran transmisi, dan sebagian gas alam di Georgia. Proyek lain yang tetap bertahan termasuk pengoperasian kembali pembangkit listrik tenaga nuklir di Pennsylvania dan sebuah saluran transmisi. Jalur proyek telah menyusut dari 191 menjadi sekitar 80 proyek di bawah pemimpin baru, Greg Beard. Para ahli berpendapat bahwa kelangsungan program ini mencerminkan kebutuhan akan keterjangkauan energi, dengan potensi dukungan untuk sektor nuklir dan jaringan listrik. Kongres telah menetapkan masa berlaku hingga 30 September 2028 melalui One Big Beautiful Bill Act.

Artikel Terkait

Indonesian President Prabowo Subianto and U.S. President Donald Trump seal energy deals worth $15B including Freeport extensions, diplomatic handshake ceremony.
Gambar dihasilkan oleh AI

Indonesia dan AS sepakati kesepakatan energi termasuk impor dan Freeport

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Pemerintah Indonesia dan Amerika Serikat menyepakati sejumlah kesepakatan di bidang energi sebagai tindak lanjut pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Donald Trump. Kesepakatan mencakup impor energi senilai 15 miliar dolar AS dan perpanjangan izin Freeport. Langkah ini bertujuan menjaga keseimbangan neraca perdagangan dan ketahanan energi nasional.

Perubahan kebijakan oleh pemerintahan Trump telah menghentikan hibah federal untuk energi surya perdesaan dan memperketat tenggat waktu kredit pajak, yang menggagalkan proyek bagi para petani dan pengembang. Program REAP dari USDA belum memberikan hibah atau pinjaman sama sekali pada tahun fiskal ini, sehingga banyak pihak berada dalam ketidakpastian. Para petani melaporkan hilangnya kesempatan untuk memangkas biaya energi di tengah margin keuntungan yang tipis.

Dilaporkan oleh AI

Departemen Dalam Negeri AS mengumumkan pada hari Senin bahwa mereka akan mengembalikan dana hampir $1 miliar kepada TotalEnergies untuk dua kontrak sewa ladang angin lepas pantai yang tidak terpakai di Samudra Atlantik. Sebagai gantinya, perusahaan asal Prancis tersebut berkomitmen untuk menginvestasikan dana tersebut ke dalam proyek minyak dan gas yang sudah berjalan di Teluk Meksiko dan Texas. Para kritikus menyebut kesepakatan ini tidak transparan dan tidak perlu.

Georgia Power, perusahaan utilitas terbesar di negara bagian tersebut, telah menyetujui program baru yang memungkinkan perusahaan untuk mengusulkan dan mendanai proyek energi bersih mereka sendiri. Program Customer-Identified Resource (Sumber Daya yang Ditentukan Pelanggan) mendapatkan dukungan bipartisan dari komisioner layanan publik pada 7 April dan dijadwalkan akan diluncurkan musim panas ini. Para pendukung melihat hal ini sebagai cara untuk memenuhi permintaan energi yang meningkat dengan energi terbarukan alih-alih gas alam.

Dilaporkan oleh AI

Amerika Serikat memasang jumlah kapasitas penyimpanan energi rekor pada 2025, menurut laporan industri surya. Tonggak ini memajukan infrastruktur energi bersih di tengah tantangan kebijakan dari administrasi Trump kedua, saat utilitas menyesuaikan jaringan dengan lonjakan permintaan listrik.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak