Ketidakpastian ekonomi global memengaruhi perilaku belanja masyarakat Indonesia, di mana sebagian orang menahan pengeluaran untuk mobil dan mengalihkannya ke emas sebagai investasi aman. Pengamat ekonomi Joshua Pardede menyatakan bahwa pemulihan ekonomi belum merata, terutama bagi kelas menengah.
Jakarta, VIVA - Ketidakpastian kondisi ekonomi global mulai memengaruhi perilaku belanja masyarakat Indonesia, termasuk dalam keputusan membeli kendaraan. Alih-alih mengalokasikan dana untuk konsumsi besar seperti mobil, sebagian masyarakat kini memilih menahan pengeluaran dan mengalihkannya ke instrumen investasi yang dianggap lebih aman, seperti emas.
Pengamat ekonomi Joshua Pardede menilai fenomena tersebut berkaitan erat dengan kondisi ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, khususnya pada kelompok kelas menengah yang menjadi tulang punggung pasar otomotif nasional. “Kalau kita ibaratkan ekonomi seperti mobil, sebenarnya mesinnya sudah menyala, tapi belum terlalu digas. Artinya, aktivitas ekonomi sudah berjalan, tetapi belum sepenuhnya pulih,” ujar Joshua di Kawasan Senayan, Jakarta Pusat, Jumat 6 Maret 2026.
Menurut dia, pertumbuhan ekonomi Indonesia menunjukkan tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir, namun pemulihan tersebut belum dirasakan merata oleh masyarakat, terutama kelas menengah yang lebih sensitif terhadap perubahan ekonomi. Dalam situasi ini, masyarakat menjadi lebih berhati-hati dalam keputusan finansial untuk pembelian barang bernilai besar seperti mobil atau properti.
Joshua menjelaskan bahwa ketidakpastian global, termasuk konflik geopolitik dan fluktuasi ekonomi dunia, memengaruhi psikologi konsumen. “Saat situasi global tidak pasti, banyak orang akhirnya menahan uangnya. Mereka menunda pembelian barang-barang besar seperti mobil atau properti,” kata dia.
Dana yang sebelumnya untuk konsumsi dialihkan ke emas, yang dianggap lebih tahan terhadap gejolak ekonomi. Fenomena ini memengaruhi pasar otomotif, di mana penjualan kendaraan masih bergerak tetapi tidak seagresif periode sebelum pandemi. Meski demikian, prospek industri otomotif nasional tetap positif dalam jangka menengah hingga panjang, didukung potensi pasar Indonesia yang besar dan tingkat kepemilikan mobil yang relatif rendah dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya.