Pelemahan rupiah tekan pembeli mobil kredit paling rentan

Pelemahan rupiah ke level Rp17.500 per dolar AS dinilai paling berdampak pada pembeli mobil kredit. Segmen mobil murah dan LCGC menjadi kelompok paling sensitif terhadap potensi kenaikan harga dan cicilan.

Ekonom sekaligus Chief Economist Bank Permata Joshua Pardede mengatakan dampak pelemahan rupiah belum langsung membuat penjualan anjlok. Namun jika kondisi berlanjut beberapa bulan, biaya produksi akan masuk ke harga jual dan cicilan konsumen.

Pasar otomotif Indonesia sangat sensitif terhadap perubahan uang muka, bunga kredit, dan besaran cicilan bulanan karena sebagian besar pembelian masih berbasis kredit. Pembeli pertama dan kelas menengah menjadi kelompok paling rentan.

Data penjualan ritel nasional April 2026 mencatat kontraksi 1,9 persen secara tahunan. Sementara itu data GAIKINDO Januari hingga April 2026 menunjukkan pasar masih bergerak namun belum cukup kuat menyerap kenaikan harga besar.

Artikel Terkait

Illustration of weakening Rupiah notes and dollars with Bank Indonesia building, showing declining exchange rate to 17,668 per USD.
Gambar dihasilkan oleh AI

Rupiah weakens to Rp17,668 per US dollar amid stabilization efforts

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

The rupiah closed weaker at Rp17,668 per US dollar on Monday, May 18, 2026. The government and Bank Indonesia have taken steps to maintain stability of the currency.

The rupiah reached Rp17,500 per US dollar on Tuesday, May 12, 2026. The pressure stems from a mix of global and domestic factors.

Dilaporkan oleh AI

Bank Indonesia has launched seven strategies to maintain rupiah stability amid global pressures, with the currency hitting Rp17.400 per US dollar. The measures received approval from President Prabowo Subianto following a meeting at the Presidential Palace on May 5, 2026. BI Governor Perry Warjiyo highlighted sufficient foreign reserves for market interventions.

CORE Indonesia projects March 2026 annual inflation at 3.5-3.6 percent, down from February's 4.76 percent. The forecast reflects a low-base effect from electricity tariffs, though Lebaran and non-subsidized fuel prices may push monthly inflation higher. Official BPS data is due on April 1, 2026.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak