Nilai tukar rupiah mencapai Rp17.500 per dolar AS pada Selasa, 12 Mei 2026. Tekanan ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik.
Pengamat ekonomi Dr Surya Vandiantara menilai pelemahan rupiah bukan hanya dialami Indonesia. Sebagian besar negara Asia juga mengalami tekanan serupa karena keberhasilan Amerika Serikat memenangkan sentimen atas konflik dengan Iran.
Menurut data Bank Indonesia, rupiah melemah 3,65 persen sejak konflik AS-Iran dimulai. Angka ini lebih rendah dibandingkan peso Filipina yang turun 6,58 persen dan baht Thailand yang melemah 5,04 persen.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menyatakan tekanan juga dipengaruhi faktor domestik seperti pembayaran utang luar negeri, dividen, dan kebutuhan ibadah haji. BI berkomitmen melakukan intervensi cerdas di pasar untuk meredam tekanan tersebut.