Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, dipengaruhi pernyataan hawkish pejabat Federal Reserve dan data ekonomi AS. Analis memprediksi fluktuasi dengan level di kisaran Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS. Bank Indonesia kemungkinan mempertahankan suku bunga di tengah tekanan ini.
Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, nilai tukar rupiah bergerak melemah 18 poin atau 0,11 persen menjadi Rp16.855 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.837, menurut data dari Analis mata uang Doo Financial Futures Lukman Leong. Hingga pukul 09.02 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp16.863 per dolar AS, melemah 26 poin atau 0,15 persen dari Rp16.837. Berdasarkan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs berada di Rp16.844 per dolar AS pada Jumat, 13 Februari 2026, melemah 18 poin dari Rp16.826 pada Kamis sebelumnya.
Lukman Leong menyatakan bahwa pelemahan ini seiring pernyataan hawkish dari pejabat The Fed, termasuk Deputi Gubernur Michael Barr dan Presiden Bank San Francisco Mary Daly. Daly menyampaikan bahwa inflasi masih perlu diturunkan karena belum mencapai target dan sektor pekerjaan fluktuatif. Barr menyebut suku bunga The Fed akan bertahan untuk beberapa waktu. Alat CME FedWatch Tool melaporkan probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada pertemuan FOMC Maret 2026 meningkat menjadi 94 persen dari 80 persen.
Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menambahkan bahwa ketidakpastian pemotongan suku bunga AS menjadi beban utama, terutama setelah data penggajian Januari menunjukkan ketahanan pasar tenaga kerja. Fokus pasar tertuju pada data inflasi indeks harga konsumen (CPI) AS untuk Januari 2026 yang dirilis Jumat ini. "Kekuatan pasar tenaga kerja dan inflasi adalah dua pertimbangan terbesar Federal Reserve untuk suku bunga," kata Ibrahim dalam risetnya.
Di sisi domestik, investor mengantisipasi sikap dovish dari Bank Indonesia pada pertemuan Kamis, 19 Februari 2026, meskipun kemungkinan mempertahankan suku bunga karena tekanan rupiah. Faktor geopolitik seperti negosiasi nuklir Iran oleh Donald Trump dan serangan drone Ukraina di kilang minyak Rusia turut memengaruhi sentimen, meski risiko mereda di Timur Tengah.