Lembaga pemeringkat Moody's mempertahankan sovereign credit rating Indonesia pada level Baa2, tetapi menyesuaikan outlook dari stabil menjadi negatif pada 5 Februari 2026. Keputusan ini datang bersamaan dengan rilis data pertumbuhan ekonomi 2025 sebesar 5,11 persen, yang lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Otoritas seperti OJK dan Bank Indonesia menegaskan bahwa hal ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional.
Pada 5 Februari 2026, Moody's Investors Service mengumumkan mempertahankan peringkat kredit sovereign Indonesia di level Baa2, tetapi mengubah outlook menjadi negatif dari stabil sebelumnya. Alasan utama adalah penurunan prediktabilitas kebijakan yang berisiko melemahkan tata kelola, meskipun Moody's mengakui ketahanan ekonomi yang kuat didukung pertumbuhan stabil, sumber daya alam, dan demografi menguntungkan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan perekonomian Indonesia tumbuh 5,11 persen year-on-year (yoy) sepanjang 2025, naik dari 5,03 persen pada 2024, dengan kuartal IV mencapai 5,39 persen yoy—capaian tertinggi sejak pandemi COVID-19. Penyumbang utama meliputi industri pengolahan, perdagangan, pertanian, dan informasi-komunikasi dari sisi produksi; serta konsumsi rumah tangga dan pembentukan modal tetap bruto dari sisi pengeluaran. Pertumbuhan ini melampaui estimasi konsensus 5,1 persen, meskipun di bawah target APBN 5,2 persen.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Pelaksana Ketua Dewan Komisioner Friderica Widyasari Dewi menyatakan bahwa afirmasi rating menegaskan fundamental ekonomi tetap solid, didukung kerangka kebijakan makro disiplin dan ketahanan sektor jasa keuangan. "Seluruh agenda tersebut diarahkan untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, mendukung pembiayaan program prioritas pemerintah, serta memperkuat kepercayaan pelaku pasar dan investor," ujar Friderica.
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menambahkan bahwa penyesuaian outlook tidak mencerminkan pelemahan fundamental, dengan inflasi 2,92 persen dalam sasaran dan proyeksi pertumbuhan 2026 di 4,9-5,7 persen. Menteri Koordinator Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut outlook negatif akibat kurangnya pemahaman global terhadap peran Danantara sebagai sovereign wealth fund, dan pemerintah akan tingkatkan komunikasi.
Reaksi pasar terlihat pada 6 Februari 2026: Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka anjlok sekitar 2,3 persen ke level 7.915-7.920, mengikuti pelemahan bursa global dan Asia. Rupiah melemah ke Rp16.865 per dolar AS, turun 0,14 persen. Meski demikian, Moody's memproyeksikan defisit fiskal tetap di bawah 3 persen PDB dan rasio utang rendah dibanding peers, dengan tantangan utama meningkatkan basis penerimaan.