Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS menguat pada pembukaan perdagangan Selasa pagi, 3 Februari 2026, menjadi sekitar Rp16.762 per dolar AS, naik 36 poin atau 0,21 persen dari hari sebelumnya. Penguatan ini dipengaruhi rilis data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat surplus neraca perdagangan Indonesia sepanjang 2025 mencapai US$41,05 miliar. Selain itu, inflasi bulanan Januari 2026 tercatat deflasi 0,15 persen, meski secara tahunan mencapai 3,55 persen.
Pada Selasa, 3 Februari 2026, nilai tukar rupiah dibuka lebih kuat di pasar spot Jakarta, mencapai Rp16.762 per dolar AS, menguat 36 poin atau 0,21 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.798. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan kurs pada Senin, 2 Februari, di Rp16.800, melemah sedikit 4 poin dari Rp16.796 pada Jumat sebelumnya.
Penguatan rupiah ini didorong oleh laporan BPS yang mengungkap surplus neraca perdagangan kumulatif Januari-Desember 2025 sebesar US$41,05 miliar, naik dari US$31,04 miliar pada 2024. Surplus tersebut didukung ekspor US$282,21 miliar yang melebihi impor US$241,86 miliar. Komponen non-migas surplus US$60,75 miliar, sementara migas defisit US$19,70 miliar. Surplus Desember 2025 saja mencapai US$2,51 miliar, yang menambah pasokan valuta asing dari ekspor dan mendukung stabilitas rupiah.
Selain itu, BPS melaporkan inflasi tahun-ke-tahun (yoy) Januari 2026 di 3,55 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 105,99 pada Januari 2025 menjadi 109,75. Inflasi bulanan justru deflasi 0,15 persen, dipicu penurunan harga pangan seperti cabai merah, cabai rawit, bawang merah, daging ayam ras, dan telur ayam ras. Inflasi tahunan didorong kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga dengan tingkat 11,93 persen (kontribusi 1,72 persen), terutama tarif listrik. Efek basis rendah dari kebijakan tarif listrik Januari 2025 berkontribusi pada angka ini.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menyatakan, "Rilis BPS soal inflasi memberi sinyal bahwa tekanan harga jangka pendek mereda." Ia menambahkan bahwa data ini menenangkan pasar meski membatasi penguatan lebih lanjut karena ruang kebijakan suku bunga lebih longgar. Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi juga menyoroti surplus perdagangan yang lebih besar tahun ini sebagai pendorong positif.
Secara keseluruhan, sentimen positif dari data BPS membentuk ekspektasi stabilitas harga dan kebijakan moneter, meski fluktuasi rupiah diprediksi berlanjut.