Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis (29/1/2026), menjadi sekitar Rp16.752-Rp16.771 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi meskipun ada isu intervensi pemerintah AS terhadap Federal Reserve dan respons positif pasar terhadap kelanjutan program stimulus domestik. Analis memprediksi potensi penguatan terbatas akibat faktor global dan domestik.
Pada pembukaan perdagangan Kamis, nilai tukar rupiah bergerak melemah 30 poin menjadi Rp16.752 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp16.722, menurut data dari Antara News. Sementara itu, hingga pukul 09.05 WIB, rupiah berada di Rp16.771 per dolar AS, turun 49 poin atau 0,29 persen, berdasarkan laporan VIVA. Pada hari sebelumnya, Rabu (28/1/2026), rupiah menguat ke Rp16.723 dari Rp16.801 pada Selasa.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan rupiah berpotensi menguat ke kisaran Rp16.700-Rp16.750, dipengaruhi pelemahan indeks dolar dan keputusan The Fed mempertahankan suku bunga acuan di 3,5 persen sesuai prediksi. "Independensi The Fed masih terus membayangi dan menimbulkan ketidakpastian," katanya. Ketua The Fed Jerome Powell menegaskan bahwa independensi bank sentral penting bagi demokrasi modern dan menghalangi politisasi kebijakan moneter. Powell juga menyatakan bank sentral akan mempertimbangkan penurunan suku bunga setelah inflasi mereda. Namun, The Fed menghadapi ancaman, termasuk sidang Gubernur Lisa Cook atas tuduhan penipuan hipotek dari Presiden Donald Trump, serta kritik Trump terhadap manajemen Fed dan keinginannya untuk berkonsultasi pada keputusan suku bunga.
Di sisi domestik, penguatan rupiah terbatas oleh arus dana keluar akibat penurunan peringkat investasi Indonesia oleh MSCI. Meski demikian, pasar merespons positif pengumuman Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk melanjutkan empat program stimulus ke 2026, seperti PPh Final 0,5 persen bagi UMKM hingga 2029, PPh 21 DTP untuk pekerja pariwisata dan industri padat karya, serta diskon iuran JKK dan JKM bagi BPU. Realisasi APBN 2025 mencapai belanja Rp3.451,4 triliun (95,3 persen), pendapatan Rp2.756,3 triliun (91,7 persen), dengan defisit Rp695,1 triliun atau 2,92 persen PDB. Yield SBN 10 tahun turun ke 6,41 persen dari di atas 7 persen akhir 2024, mencerminkan kepercayaan investor.