Bank Indonesia (BI) mengungkap bahwa pelemahan rupiah terhadap dolar AS disebabkan oleh tekanan global, termasuk eskalasi geopolitik dan ancaman tarif dari Presiden AS Donald Trump terkait Iran. Rupiah ditutup pada level 16.860 per dolar AS pada 13 Januari 2026, terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date. BI menegaskan komitmennya untuk menjaga stabilitas melalui intervensi pasar.
Bank Indonesia melaporkan perkembangan nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar AS dalam beberapa waktu terakhir. Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin G. Hutapea, menyatakan bahwa pergerakan mata uang global pada awal 2026 dipengaruhi oleh tekanan di pasar keuangan dunia, termasuk eskalasi tensi geopolitik, kekhawatiran terhadap independensi bank sentral di negara maju, serta ketidakpastian kebijakan moneter The Fed di tengah kebutuhan valuta asing domestik yang meningkat.
Rupiah ditutup pada 16.860 per dolar AS pada Selasa, 13 Januari 2026, atau terdepresiasi 1,04 persen secara year-to-date, sejalan dengan pelemahan regional seperti Won Korea Selatan yang melemah 2,46 persen dan Peso Filipina 1,04 persen. Pada Rabu, 14 Januari 2026, rupiah bergerak menguat tipis di pasar spot menjadi 16.869 per dolar AS pada pukul 09.18 WIB, naik 0,05 persen dari posisi sebelumnya.
Ancaman tarif 25 persen dari Trump terhadap negara yang berdagang dengan Iran, yang dikonfirmasi bersifat final, meningkatkan ketegangan perdagangan AS-China, mengingat China sebagai importir utama minyak Iran. Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede memprediksi rupiah berpotensi melemah, dengan kisaran perdagangan 16.800-16.900 per dolar AS hari itu.
BI menjaga stabilitas melalui intervensi NDF di pasar off-shore Asia, Eropa, dan Amerika, serta transaksi spot, DNDF, dan pembelian SBN di pasar domestik. Aliran masuk modal asing mencapai Rp 11,11 triliun pada Januari 2026, didukung premi risiko CDS Indonesia 5 tahun di 72 bps. Cadangan devisa akhir Desember 2025 sebesar US$156,5 miliar, setara 6,4 bulan impor.
Sementara itu, pertumbuhan kredit perbankan hingga November 2025 hanya 7,74 persen secara tahunan, di bawah proyeksi BI 8-11 persen, meski penempatan dana pemerintah Rp 276 triliun sejak September 2025. Pengamat Ibrahim Assuaibi menilai penarikan dana Rp 75 triliun oleh Menteri Keuangan tidak mengganggu likuiditas, dengan undisbursed loan Rp 2.509 triliun atau 23,18 persen dari plafon tersedia.