Rupiah melemah lagi mendekati Rp17.000 per dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada pembukaan perdagangan Selasa (20/1/2026) menjadi sekitar Rp16.977-Rp16.985 per dolar AS. Analis memprediksi potensi penguatan terbatas akibat tekanan fiskal dan menanti rapat Bank Indonesia. Kekhawatiran defisit anggaran mendekati batas 3 persen menambah volatilitas mata uang.

Pada Selasa (20/1/2026), nilai tukar rupiah dibuka lebih lemah di pasar spot Jakarta. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs sebelumnya pada Senin (19/1/2026) berada di Rp16.935 per dolar AS, melemah 55 poin dari Rp16.880 pada Kamis (15/1/2026). Hingga pukul 09.47 WIB, rupiah ditransaksikan di Rp16.977, turun 22 poin atau 0,13 persen dari Rp16.955, sementara pembukaan menunjukkan penurunan 30 poin menjadi Rp16.985.

Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah berpotensi menguat karena tekanan pada dolar AS akibat aksi jual obligasi AS yang mendorong imbal hasil naik dari 4,13 persen menjadi 4,25 persen. "Rupiah berpotensi menguat terhadap dolar AS yang kembali tertekan oleh aksi jual obligasi AS oleh investor," katanya di Jakarta. Namun, penguatan ini terbatas karena investor wait and see menjelang Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada Rabu (21/1/2026).

Pengamat ekonomi Ibrahim Assuaibi menyoroti kekhawatiran kesehatan fiskal Indonesia setelah defisit anggaran tahun lalu mendekati batas hukum 3 persen per 8 Januari 2026, dengan penerimaan negara yang lemah. Kebijakan pemerintah mendukung target pertumbuhan 8 persen pada 2029 di bawah Presiden Prabowo Subianto berisiko menimbulkan sentimen negatif. Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar DNDF dan NDF, serta mempertahankan suku bunga acuan, termasuk penyesuaian surat berharga dan pembelian obligasi pemerintah di pasar sekunder.

Pengunduran diri Juda Agung sebagai Deputi Gubernur BI dinilai tidak berdampak signifikan. "Perihal pengunduran diri Deputi BI memang bukan hal yang positif, namun apa pun alasannya, dampaknya tidak akan besar dibandingkan hal-hal yang dikhawatirkan saat ini seperti defisit anggaran dan prospek pemangkasan suku bunga BI," ujar Lukman. Nilai tukar diperkirakan bergerak di kisaran Rp16.700–Rp17.000 per dolar AS, dengan rencana pengelolaan devisa ekspor sebagai penopang.

Artikel Terkait

Illustration of Rupiah strengthening to Rp16,868 per USD at Jakarta exchange, featuring US Supreme Court ruling and Indonesia-US trade deal.
Gambar dihasilkan oleh AI

Rupiah strengthens to Rp16,868 per US dollar after US supreme court ruling

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

The rupiah exchange rate strengthened at the opening of trading on Monday (February 23, 2026) to Rp16,868 per US dollar, influenced by the US Supreme Court's decision to annul parts of Donald Trump's tariff policies. Additionally, a new trade agreement between Indonesia and the US supported this strengthening. Analysts predict fluctuations will continue in the currency market.

The rupiah weakened against the US dollar in trading on Wednesday, February 18, 2026, influenced by hawkish statements from Federal Reserve officials and US economic data. Analysts predict fluctuations with levels around Rp16,800-Rp16,900 per US dollar. Bank Indonesia is likely to hold interest rates amid this pressure.

Dilaporkan oleh AI

The rupiah reached Rp17,500 per US dollar on Tuesday, May 12, 2026. The pressure stems from a mix of global and domestic factors.

Continuing its sharp FY26 depreciation—after breaching 94 in late March—the Indian rupee fell to a fresh record low of 95.28 against the US dollar on Tuesday, May 5. Oil prices exceeding $110 a barrel have intensified inflation and balance-of-payments worries, prompting Reserve Bank of India interventions amid curbs on foreign exchange positions.

Dilaporkan oleh AI

Escalation of conflict between the US, Israel, and Iran in the Middle East has driven global oil prices above US$100 per barrel, weakening the rupiah to Rp17,000 and sharply dropping the IHSG. The Indonesian government asserts the domestic economy remains in expansion despite risks of inflation and layoffs. Energy Minister Bahlil Lahadalia guarantees no increase in subsidized fuel prices until Eid.

The Philippine peso closed at P61.30 against the US dollar on Tuesday, April 28, marking a new record low amid global uncertainties from the Middle East conflict.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak