Rupiah melemah dibayangi prediksi gejolak ekonomi global 2026

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak fluktuatif dan ditutup melemah pada perdagangan Selasa ini, di tengah prakiraan gejolak ekonomi global pada 2026. Pengamat memperingatkan bahwa persaingan antarnegara besar dan perlambatan pertumbuhan bisa meningkatkan ketidakpastian bagi pasar berkembang seperti Indonesia.

Pada Selasa, 16 Desember 2025, pukul 09.00 WIB, rupiah ditransaksikan pada level Rp16.671 per dolar AS, melemah 4 poin atau 0,02 persen dari posisi sebelumnya di Rp16.667. Berdasarkan data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia, kurs rupiah pada Senin, 15 Desember 2025, berada di Rp16.669 per dolar AS, turun 17 poin dari Rp16.652 pada Jumat, 12 Desember 2025.

Pengamat ekonomi dan pasar uang, Ibrahim Assuaibi, menyatakan bahwa tahun 2026 berpotensi menjadi salah satu tahun paling tidak terduga dalam beberapa dekade terakhir. Kompetisi antara negara besar berpotensi semakin tajam, aliansi global berpotensi bergeser, dan konflik regional berpotensi meluas.

Berbagai lembaga dunia seperti IMF, Bank Dunia, Bank Sentral Eropa (ECB), dan OECD memprakirakan pertumbuhan ekonomi global bakal melambat, terfragmentasi, dan mengalami transformasi besar. Perlambatan ini disebabkan oleh perdagangan dunia yang melemah, rantai pasok yang direstrukturisasi demi keamanan bukan efisiensi, utang publik di banyak negara yang mencapai titik tertinggi, serta perkembangan teknologi yang lebih pesat daripada regulasi baru.

Valuasi aset di sejumlah negara berada di posisi rentan setelah naik terlalu cepat dalam beberapa tahun terakhir. Sistem perbankan juga belum pulih sepenuhnya akibat tekanan kredit bermasalah dan kerugian portofolio di tengah suku bunga tinggi.

Era suku bunga lebih tinggi untuk waktu lebih lama berpotensi menekan dunia usaha menjelang 2026, ditambah ketidakpastian sosial dan politik yang meningkat.

Jika digabungkan, 2026 berpotensi menjadi tahun di mana banyak hal berjalan salah, dengan risiko seperti perlambatan ekonomi global lebih tajam, proteksionisme dan pembatasan ekspor meningkat, ketidakstabilan energi, konflik berkepanjangan, hingga disrupsi teknologi yang melampaui kemampuan adaptasi.

Artikel Terkait

Illustration of Rupiah strengthening to Rp16,868 per USD at Jakarta exchange, featuring US Supreme Court ruling and Indonesia-US trade deal.
Gambar dihasilkan oleh AI

Rupiah menguat ke Rp16.868 per dolar AS setelah putusan MA AS

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Nilai tukar rupiah menguat pada pembukaan perdagangan Senin (23/2/2026) menjadi Rp16.868 per dolar AS, dipengaruhi putusan Mahkamah Agung AS yang membatalkan sebagian kebijakan tarif Donald Trump. Selain itu, kesepakatan perdagangan baru antara Indonesia dan AS juga mendukung penguatan ini. Analis memprediksi fluktuasi tetap terjadi di pasar mata uang.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada perdagangan Rabu, 18 Februari 2026, dipengaruhi pernyataan hawkish pejabat Federal Reserve dan data ekonomi AS. Analis memprediksi fluktuasi dengan level di kisaran Rp16.800-Rp16.900 per dolar AS. Bank Indonesia kemungkinan mempertahankan suku bunga di tengah tekanan ini.

Dilaporkan oleh AI

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan nilai tukar rupiah seharusnya menguat karena kinerja fundamental ekonomi nasional yang kuat. Meski demikian, rupiah justru melemah menjadi Rp16.997 per dolar AS pada 16 Maret 2026. Ia juga yakin IHSG bakal tembus 10.000 di akhir 2026.

Konflik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang memanas sejak akhir Februari 2026 memicu kenaikan harga minyak dan emas dunia, mendorong pengusaha Indonesia menyiapkan langkah mitigasi risiko jangka pendek. Bank Indonesia waspada terhadap potensi inflasi akibat biaya transportasi dan produksi yang melonjak. Pasar saham Asia turun, sementara investor beralih ke aset aman seperti emas.

Dilaporkan oleh AI

Harga minyak mentah dunia telah menembus level 115 dolar AS per barel, dipicu oleh eskalasi perang antara Iran dan AS-Israel serta ancaman dari kelompok Houthi. Ekonom memperingatkan risiko fiskal bagi Indonesia, termasuk pelemahan rupiah ke Rp17.002 per dolar AS dan potensi defisit APBN. Pertamina membantah rumor kenaikan harga BBM nonsubsidi per 1 April 2026.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak