Dramatic illustration of KPK officers arresting Pekalongan Regent Fadia Arafiq in a Semarang corruption sting operation.
Dramatic illustration of KPK officers arresting Pekalongan Regent Fadia Arafiq in a Semarang corruption sting operation.
Gambar dihasilkan oleh AI

KPK arrests Pekalongan Regent Fadia Arafiq in sting, names her sole suspect in outsourcing corruption case

Gambar dihasilkan oleh AI

Indonesia's Corruption Eradication Commission (KPK) arrested Pekalongan Regent Fadia Arafiq on March 3, 2026, in Semarang during a sting operation over alleged corruption in outsourcing procurement for fiscal years 2023-2026. She was named the sole suspect the following day and detained for 20 days. Her family's company, PT Raja Nusantara Berdaya, secured Rp46 billion in government contracts.

Fadia Arafiq, 47, born Laila Fathiah on May 23, 1978, in Jakarta, rose to fame as a dangdut singer with her early 2000s hit 'Cik Cik Bum Bum.' Daughter of legendary singer A. Rafiq, she is married to Ashraff Abu, a former Malaysian dangdut singer and current Indonesian DPR RI member from the Golkar Faction for Central Java X. Her education includes SD Negeri Karet Tengsin 14, SMP Negeri 8 Tanah Abang, SMA Negeri 58 Ciracas in Jakarta, a Bachelor's in Management from Universitas AKI Semarang (2013), Master's in Management from Universitas Stikubank Semarang (2015), and a doctorate from Universitas 17 Agustus 1945 Semarang. Her 2023 wealth report lists a 2013 Hyundai Minibus valued at Rp200 million.

The arrest took place on March 3, 2026—KPK's seventh sting operation (OTT) of the year, during Ramadan—while Fadia was charging an electric vehicle in Semarang, accompanied by her aide and a trusted associate. KPK also detained 11 others in Pekalongan, including Regency Secretary Mohammad Yulian Akbar. Fadia, wearing a KPK orange vest, claimed she was arrested at home while meeting Central Java Governor Ahmad Luthfi to discuss her absence from a Free Nutritious Meals (MBG) program event, but the governor denied this. She insisted there was no sting and no items seized.

On March 4, 2026, KPK Deputy for Enforcement Asep Guntur Rahayu announced the case's elevation to investigation stage, naming Fadia (Bupati Pekalongan 2025-2030) as the sole suspect based on sufficient evidence. She faces charges under Article 12 letter i and Article 12B of Law No. 31/1999 on Corruption Eradication (as amended by Law No. 20/2001), alongside Article 127(1) of Law No. 1/2023 on the Criminal Code. This marks the first sting using Article 12 letter i on conflicts of interest without additional provisions. She is detained at KPK's Red and White Building facility until March 23, 2026.

KPK spokesperson Budi Prasetyo noted the legal status followed a March 3 night reconstruction, determined within 1x24 hours. The case involves complex corruption in outsourcing services across regency units. PT Raja Nusantara Berdaya (RNB), Fadia's family firm, received Rp46 billion from 2023-2026 contracts; Rp22 billion covered salaries, with Rp24 billion remaining—of which Rp19 billion was distributed to family and associates. In 2025 alone, RNB won 21 tenders across 17 departments, three public hospitals, and one sub-district, dominating outsourcing projects.

Fadia attributed her actions to her non-bureaucratic music background. She had previously faced criticism in March 2025 for harshly responding to a netizen's Instagram comment on Ki Ageng Sedayu Hospital's opening and a Ketandan, Wiradesa event.

Apa yang dikatakan orang

X discussions express shock and criticism over KPK's arrest of Pekalongan Regent Fadia Arafiq for alleged outsourcing corruption involving her family's PT Raja Nusantara Berdaya securing Rp46 billion contracts, with Rp19 billion reportedly benefiting relatives. Users mock her claims of ignorance of procurement laws and being with the governor during the sting, praise KPK's vigilance, and note her dangdut singer background. High-engagement posts from news accounts and users highlight factual details and skepticism.

Artikel Terkait

Dramatic nighttime arrest of Rejang Lebong regent and deputy regent by KPK in corruption sting.
Gambar dihasilkan oleh AI

KPK tangkap wakil bupati Rejang Lebong dalam OTT

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menangkap Wakil Bupati Rejang Lebong, Hendri, bersama Bupati Muhammad Fikri Thobari dalam operasi tangkap tangan (OTT) pada Senin malam, 9 Maret 2026. Total 13 orang diamankan terkait dugaan korupsi proyek di Pemkab Rejang Lebong. Sembilan di antaranya, termasuk kedua pejabat tersebut, dibawa ke Jakarta untuk pemeriksaan lanjutan.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) berencana memanggil suami dan dua anak Bupati Pekalongan nonaktif Fadia Arafiq untuk menelusuri aliran uang dalam kasus dugaan korupsi pengadaan jasa. Keluarga tersebut disebut menerima Rp19 miliar dari kontrak yang melibatkan perusahaan milik mereka. Wakil Menteri Dalam Negeri Bima Arya menyindir klaim Fadia yang mengaku tidak paham birokrasi karena latar belakangnya sebagai penyanyi dangdut.

Dilaporkan oleh AI

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) membawa 13 dari 27 orang yang diamankan dalam operasi tangkap tangan (OTT) terhadap Bupati Cilacap Syamsul Auliya Rachman ke Jakarta untuk pemeriksaan lebih lanjut. Mereka tiba di Gedung KPK pada Sabtu dini hari setelah berangkat dari Cilacap pada Jumat malam. Kasus ini terkait dugaan penerimaan suap dari proyek-proyek di Kabupaten Cilacap.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sedang menyelidiki aktivitas mantan Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil, termasuk penukaran miliaran rupiah ke mata uang asing, terkait dugaan korupsi pengadaan iklan di Bank BJB. Penyelidikan mencakup kegiatan di dalam dan luar negeri, komunikasi dengan pihak bank, serta sumber pembiayaan. Kasus ini telah menjerat lima tersangka dengan kerugian negara mencapai Rp222 miliar.

Dilaporkan oleh AI

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan enam orang sebagai tersangka dalam kasus dugaan suap dan gratifikasi terkait pengurusan impor barang tiruan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Operasi tangkap tangan dilakukan pada 4 Februari 2026, melibatkan oknum pejabat bea cukai dan pihak swasta dari PT Blueray Cargo. Kasus ini mengungkap upaya manipulasi jalur pemeriksaan agar barang ilegal lolos tanpa dicek.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak