Rencana pembangunan pusat data di Imperial Valley memicu kekhawatiran terkait air

Pusat data berskala besar yang diusulkan untuk Imperial Valley, California, akan membutuhkan 750.000 galon air setiap hari, yang memicu kekhawatiran di kalangan warga setempat mengenai kenaikan biaya dan kelangkaan. Pengembang Sebastian Rucci berencana menyelesaikan fasilitas berkapasitas 330 megawatt tersebut pada tahun 2028, namun proyek ini menghadapi gugatan hukum dan berbagai hambatan regulasi. Proyek ini merupakan satu dari 24 pusat data yang dijadwalkan akan dibuka di negara bagian tersebut menjelang tahun 2030.

Di Imperial Valley, sekitar 115 mil di sebelah timur San Diego, pengembang Sebastian Rucci terus mendorong pembangunan pusat data seluas 950.000 kaki persegi di atas lahan seluas 235 ekar yang telah dibelinya. Fasilitas tersebut, yang dapat menjadi yang terbesar di California jika selesai pada musim panas 2028, dirancang untuk kapasitas listrik 330 megawatt dan membutuhkan 750.000 galon air per hari untuk pendinginan. Rucci bersikeras bahwa berbagai kajian menunjukkan tidak adanya dampak terhadap biaya air dan listrik setempat, dengan menyatakan, "Kami memiliki kajian tentang udara. Kami memiliki kajian tentang air. Listrik dapat ditangani." Ia telah mengusulkan penggunaan air reklamasi dari kota-kota terdekat dan bertujuan untuk menciptakan sekitar 100 lapangan kerja tetap. Google telah membantah keterlibatan mereka meskipun Rucci sempat menyebutkan pelatihan AI Gemini milik perusahaan tersebut di sana. Proyek ini menghadapi gugatan hukum dari pemerintah kota Imperial terkait tinjauan lingkungan di bawah California Environmental Quality Act, dengan jadwal sidang berikutnya ditetapkan pada akhir April. Imperial Irrigation District belum menerima permintaan air secara resmi dan tidak memberikan estimasi dampak biaya. Warga setempat seperti Margie Padilla, yang tinggal kurang dari setengah mil dari lokasi, khawatir akan kenaikan tagihan dan pembatasan penggunaan air. Tagihan air, saluran pembuangan, dan sampah keluarga tersebut telah meningkat dua kali lipat menjadi $90-$130 per bulan dalam enam tahun terakhir, dan ia bergantung pada kebunnya untuk mendapatkan hasil bumi segar. "Saya hanya bisa membayangkan tarif yang akan naik setelah pusat data itu beroperasi," kata Padilla. Tetangganya, Carolina Paez, yang halaman belakangnya berbatasan langsung dengan lokasi proyek, khawatir akan debu, kebisingan, polusi, dan penurunan nilai properti di tengah masalah asma yang dialami keluarganya. Para ahli menyoroti tantangan yang lebih luas di tengah lonjakan pusat data di California. Shaolei Ren dari University of California, Riverside, mencatat bahwa fasilitas berkapasitas 100 megawatt dapat menggunakan 1 juta galon air per hari saat cuaca panas puncak, setara dengan konsumsi 10.000 rumah tangga. Negara bagian tersebut tidak memiliki persyaratan bagi pusat data untuk melaporkan penggunaan air, yang mempersulit pengawasan di wilayah yang tertekan oleh kekeringan dan penurunan debit Sungai Colorado. Ren memperkirakan dibutuhkan peningkatan infrastruktur air senilai $200 juta hingga $800 juta untuk 24 pusat data yang direncanakan hingga tahun 2030.

Artikel Terkait

President Trump shakes hands with tech CEOs signing the Ratepayer Protection Pledge at the White House, with AI data centers symbolized in the background.
Gambar dihasilkan oleh AI

Tech giants sign White House pledge to cover AI data center power costs amid backlash

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

On March 4, 2026, leading tech firms including Amazon, Google, Meta, Microsoft, OpenAI, Oracle, and xAI signed the non-binding Ratepayer Protection Pledge at the White House, committing to fund new power generation and infrastructure for AI data centers to shield consumers from rising electricity bills. President Trump hailed it as a 'historic win,' but critics question its enforceability amid growing environmental and economic concerns.

Arizona faces severe water shortages from the drying Colorado River and depleting aquifers, yet tech companies continue building data centers and chip factories. Facilities like those from Microsoft, Meta, and TSMC have expanded rapidly, raising concerns about water use. However, current data shows their impact on the state's water supply remains limited.

Dilaporkan oleh AI

Residents in rural areas across the United States are opposing new data center projects over concerns about water supplies, energy costs, and farmland loss. In Tazewell County, Illinois, locals successfully blocked a proposed facility after packed council meetings and petitions. The backlash highlights tensions between AI infrastructure growth and agricultural needs.

Tech companies are increasingly using natural gas turbines and engines to generate on-site electricity for data centers amid surging AI demand. This trend is leading to a boom in fossil fuel projects, particularly in the United States. Experts warn it could lock in higher emissions and hinder renewable energy adoption.

Dilaporkan oleh AI

A Wired article explores the idea of launching AI data centers into orbit to mitigate their environmental impact. It highlights the rapid growth of these facilities amid the AI boom and their massive energy consumption. The proposal aims to address rising electricity demands and associated global warming.

Data centres powering artificial intelligence are causing land surface temperatures to rise by an average of 2°C near their locations, with extremes reaching 9.1°C, according to researchers at the University of Cambridge. The heat effects extend up to 10 kilometres away, potentially impacting more than 340 million people worldwide. The findings come from a study analysing satellite data over the past two decades.

Dilaporkan oleh AI

A Cochilco study projects seawater will account for 68% of water use in Chile's large-scale copper mining by 2034, up from 41% in 2024. Total water demand will rise from 18.5 m³/s to 20.6 m³/s, as continental water use falls.

 

 

 

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak