Provinsi Sumatera Utara dilanda banjir, longsor, dan cuaca ekstrem sejak 22 November 2025, menyebabkan korban jiwa dan kerusakan infrastruktur. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut mengerahkan tim ke wilayah terdampak seperti Tapanuli Selatan hingga Mandailing Natal. BNPB menyatakan bencana ini dipicu oleh Siklon Tropis KOTO dan Bibit Siklon 95B.
Bencana hidrometeorologi melanda tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara akibat hujan deras dari 22 hingga 25 November 2025. Wilayah terdampak mencakup Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan.
Menurut BPBD Sumut, hingga 26 November 2025 pukul 08.00 WIB, terdapat 13 korban meninggal dunia, dengan sembilan di Tapanuli Selatan (enam di Kecamatan Batangtoru, satu di Sipirok, dan dua di Angkola Barat) serta empat di Tapanuli Tengah, Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, akibat tertimbun longsor. Namun, BNPB melaporkan delapan korban tewas di empat kabupaten: Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan. Sebanyak 37 orang luka-luka, tiga hilang di Tapanuli Selatan, dan satu di Padangsidimpuan.
Kerusakan meliputi 330 rumah di Tapanuli Selatan (12 berat, enam sedang, 312 ringan) dan satu sekolah rusak. Di Mandailing Natal, 561 keluarga atau 2.244 jiwa mengungsi, 13 rumah rusak berat, satu sekolah rusak, serta 85 hektare lahan pertanian tergenang. Tapanuli Utara mencatat 19 keluarga mengungsi, lima rumah rusak berat, 64 ringan, empat ruas jalan rusak, dan satu jembatan putus. Nias Selatan memiliki satu rumah rusak berat dan satu jalan terganggu, sementara Padangsidimpuan melaporkan 220 jiwa mengungsi.
Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD Sumut, Sri Wahyuni Pancasilawati, menyatakan, "Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota." BPBD mengerahkan dua tim dengan 14 personel ke Tapanuli Selatan, 17 personel ke Tapanuli Tengah dan Sibolga (meski tertahan), serta tiga tim ke Mandailing Natal, membawa logistik dan peralatan.
BNPB melalui Abdul Muhari menjelaskan, cuaca ekstrem dipicu Siklon Tropis KOTO di Laut Sulu dan Bibit Siklon 95B di Selat Malaka, yang membentuk awan konvektif luas dan hujan lebat. Ratusan personel gabungan dikerahkan untuk evakuasi dan pengungsian. Potensi hujan ekstrem masih ada dalam 24 jam ke depan, dengan pemantauan ketat di Tapanuli Raya.