Wali Nanggroe Aceh Tgk Malik Mahmud Al Haythar bersuara soal bencana banjir dan longsor yang menewaskan ratusan orang di Sumatera, khususnya Aceh. Ia menyerukan investigasi mendalam terhadap pemicu bencana seperti deforestasi dan pembalakan liar. Selain itu, ia mendesak reformasi sistemik untuk mencegah kejadian serupa.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera belakangan ini telah menewaskan ratusan warga, dengan korban meninggal di Aceh mencapai 326 orang menurut laporan terbaru. Di Banda Aceh, Kamis (4/12/2025), Tgk Malik menyatakan duka mendalam atas hilangnya nyawa dan kerusakan infrastruktur. "Kita harus menjadikan pengalaman pahit ini sebagai titik balik," katanya.
Ia menyoroti perlunya penghentian deforestasi di wilayah hulu dan daerah aliran sungai, serta penerapan tata ruang berbasis risiko bencana. Selain itu, Tgk Malik mendesak pengendalian pencemaran air akibat tambang ilegal berbasis merkuri, penguatan sistem peringatan dini dengan sensor dan satelit, serta pemberantasan tambang dan pembalakan liar melalui kolaborasi adat, pemerintah, dan penegak hukum.
Temuan kayu gelondongan dengan bekas gergaji mesin di lokasi banjir menguatkan dugaan keterlibatan manusia, seperti yang disampaikan Guru Besar IPB Bambang Hero Saharjo. Kapolri Listyo Sigit Prabowo menginstruksikan tim gabungan untuk melacak asal kayu dari hulu hingga hilir sungai. Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyelidiki peran aktivitas tambang, menjanjikan sanksi tegas bagi pelanggar.
Upaya penanganan bencana melibatkan TNI dengan 30.151 personel dan distribusi 199,48 ton bantuan udara. Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka meninjau logistik di Medan, didampingi Gubernur Sumut Bobby Nasution, memastikan distribusi cepat sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto. BNPD melaporkan 836 korban meninggal dan 509 hilang di tiga provinsi.