Bencana longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, pada 24 Januari 2026, telah menewaskan 25 orang dengan 65 lainnya masih hilang. Tim SAR gabungan terus melakukan evakuasi meski terhambat hujan deras, sementara pakar ITB mengungkap penyebab kompleks melibatkan mudflow dari bendungan alam. Dua polisi juga tewas dalam kecelakaan saat bertugas di lokasi.
Bencana longsor menerjang Kampung Pasirkuning dan Pasirkuda di Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, serta Kampung Sukadami di Desa Sukajaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, pada dini hari Sabtu, 24 Januari 2026. Kejadian ini dipicu oleh hujan deras berkepanjangan yang menyebabkan lereng Gunung Burangrang longsor, membentuk bendungan alam di hulu sungai dan memicu aliran lumpur (mudflow) ke hilir.
Pakar Geologi Longsoran ITB, Imam Achmad Sadisun, menjelaskan bahwa wilayah ini berada pada produk vulkanik tua dengan lapisan pelapukan tebal, yang melemah saat tanah jenuh air. "Rumah-rumah warga sebenarnya tidak longsor pada lereng-lereng tempat mereka berdiri, tetapi terdampak material longsoran yang dikirim dari hulu melalui alur sungai," ujarnya. Ia memperingatkan potensi longsor susulan jika hujan berlanjut, dan menekankan peran vegetasi dalam menjaga stabilitas lereng.
Hingga 25 Januari 2026, Tim SAR gabungan telah menyerahkan 25 kantong jenazah ke tim DVI, dengan 11 diidentifikasi, termasuk Suryana (57), Jajang Tarta (35), dan M. Kori (30) dari potongan tangan. Sebanyak 65 korban masih hilang, sementara 23 orang selamat. Pencarian dihentikan sementara pukul 16.00 WIB karena hujan deras dan longsor susulan, dan dilanjutkan keesokan harinya dengan tambahan alat berat.
BMKG memprediksi hujan lebat berlanjut sepekan ke depan, meningkatkan risiko bencana lanjutan. Anggota DPR Rajiv dari Fraksi NasDem menyampaikan duka cita dan mendorong audit lingkungan menyeluruh, termasuk investigasi alih fungsi lahan. "Harus ada keberanian mengusut apakah longsor ini dipicu oleh kerusakan lingkungan," tegasnya.
Tragedi bertambah tragis ketika dua polisi, Aiptu Hendra Kurniawan dan Aipda Muhammad Jerry Sonconery, tewas tertabrak truk TNI yang mengangkut bantuan sekitar pukul 15.30 WIB di Jalan Cimeta. Keduanya mendapat kenaikan pangkat anumerta dari Kapolri. Lebih dari 30 rumah rusak, dan 300-400 warga mengungsi.