Banjir hebat yang melanda Aceh sejak 26 November 2025 memutus akses ke wilayah terisolir, memaksa relawan menempuh perjalanan berbahaya dengan perahu kayu yang sering menabrak rintangan. Meski demikian, upaya penyaluran bantuan terus dilakukan, termasuk oleh TNI dan perusahaan seperti Pertamina, di tengah penurunan jumlah pengungsi di Sumatera.
Banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh pada 26 November 2025 telah mengisolasi banyak wilayah, termasuk di Bener Meriah dan Aceh Tengah, sehingga distribusi bantuan menjadi tantangan besar. Video yang diunggah di Instagram @saktimandraguna menunjukkan relawan mengangkut 4 ton makanan melalui jalur laut dan sungai pada malam hari menggunakan perahu kayu. Perahu mereka menabrak rintangan hingga tiga kali, tetapi untungnya tidak rusak. Seorang relawan berteriak frustrasi, "Nabrak-nabrak ini cobalah. Ngeri kali perjalanan kita ini, sampai nabrak-nabrak untuk ngantar bantuan. Kalian pejabat-pejabat harus ke sini kalian biar tau kalian rasanya. Lotong!" Lainnya memanggil Presiden Prabowo, "Prabowo sini kau woi, kau tengok kami ini kayak mana."
Untuk mengatasi isolasi, relawan juga harus menyeberangi sungai dan berjalan 30 km guna mengirim 6 ton beras. "Ini ya mas Ale ini, kita semua sahabat BM3 ini proses pengiriman ke dua kabupaten yang terisolasi... Hari ini ada 6 ton beras yang coba kita kirim ke sana. Bismillahi tawakkaltu alallah," kata perekam video.
Upaya serupa dilakukan TNI, yang membangun posko di Bandara Rembele, Bener Meriah, sejak 7 Desember 2025 untuk mempercepat distribusi. Pesawat Hercules dan CN mendaratkan logistik mulai 8 Desember, didistribusikan dengan helikopter seperti dua Caracal, satu dari Kementerian Pertahanan, dan satu MI-17. Kolonel Didik Setyo Nugroho menyatakan posko ini lebih efektif daripada dari Medan atau Padang.
Secara keseluruhan, jumlah pengungsi bencana di Sumatera menurun dari 1.047.107 orang pada 8 Desember menjadi 902.545 pada 9 Desember, menurut Brigjen TNI Osmar Silalahi, yang menyebutnya kemajuan. TNI terus mengerahkan personel, pesawat, helikopter, dan kapal perang untuk logistik. Perusahaan seperti Pertamina menambah posko di Medan dan Banda Aceh untuk koordinasi bantuan, sementara Brantas Abipraya mengirim alat berat ke Sumatera Utara dan Aceh. Di Sumatera Barat, 24 jenazah tak teridentifikasi dimakamkan secara massal pada 10 Desember di Bungus setelah sholat jenazah di Masjid Raya Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi.