Banjir yang melanda Sumatera merusak sekitar 70 ribu hektare sawah dan berpotensi mengganggu produksi pangan nasional. Pemerintah berjanji memulai pemulihan lahan pada Januari 2026, sementara bantuan pangan telah disalurkan. Dampak banjir juga mencakup kerusakan sekolah di Aceh dan kebutuhan akan perawatan higienis untuk mencegah penyakit.
Banjir di Sumatera menjadi perhatian serius pemerintah karena berpotensi memengaruhi produksi dan distribusi pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan kerusakan sekitar 70 ribu hektare sawah dalam Sidang Kabinet awal pekan ini. "Insyaallah bisa kami tangani mulai bekerja di Januari," kata Amran di Jakarta pada Selasa (16/12/2025).
Untuk mengatasi kebutuhan pangan, Kementerian Pertanian telah menyalurkan 44 ribu ton beras hingga pertengahan Desember, dengan cadangan 120.000 ton tersedia—tiga kali lipat kebutuhan. Bantuan mencakup Rp1 triliun berupa beras dan minyak goreng sebanyak 6.000 ton, ditambah Rp75 miliar dari kementerian lain. Distribusi diperkuat melalui tiga kapal ke wilayah terdampak.
Di Pidie Jaya, Aceh, banjir bandang pada 26/11/2025 menghanyutkan Madrasah Ibtidaiyah Negeri (MIN) 05 di Desa Seunong, Kecamatan Meurah Dua, menyisakan hanya fondasi pagar depan sepanjang lima meter. Keuchik Gampong Saiful menyatakan satu sekolah hanyut total, beserta 12 rumah, dua balai pengajian, dan satu Polindes. "Alhamdulillah tidak ada korban jiwa, karena ketika air datang pertama, kami membuat pengumuman agar warga diimbau menuju tempat aman," ujarnya pada 14/12/2025.
Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (Perdoski) Jakarta menekankan akses air bersih dan sabun lembut krusial bagi korban. dr M. Akbar Wedyadhana menyatakan penyakit infeksi jamur atau bakteri muncul akibat keterbatasan higienitas. "Kita perlu sabun yang lembut dan tidak mengiritasi ya," katanya pada 15/12/2025, menyarankan sabun antiseptik untuk area infeksi dan produk lembut tanpa parfum untuk anak-anak guna menjaga pH kulit seimbang.
Meski demikian, indikator pertanian nasional tetap positif, dengan Nilai Tukar Petani (NTP) 124,36 persen—tertinggi sepanjang sejarah—dan stok beras proyeksi 3,7 juta ton akhir tahun, tertinggi sejak 1969.