Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengumumkan pemerintah akan menggaji petani melalui skema padat karya untuk merehabilitasi sawah yang rusak akibat bencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Program ini bertujuan menjaga produksi pangan nasional, dengan biaya ditanggung pemerintah pusat. Total kerusakan mencapai 98.002 hektare, dengan target penyelesaian kerusakan ringan hingga sedang dalam tiga bulan.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyatakan bahwa pemerintah akan melibatkan petani secara langsung dalam pemulihan sawah terdampak bencana melalui skema padat karya. "Melalui skema ini, petani tidak hanya memulihkan lahan pertanian, tetapi juga memperoleh pendapatan selama proses pemulihan berlangsung," kata Amran dalam keterangannya pada 17 Januari 2026.
Total lahan sawah yang rusak akibat bencana alam di tiga provinsi tersebut mencapai 98.002 hektare. Aceh paling parah dengan 54.233 hektare di 21 kabupaten/kota, diikuti Sumatera Utara 37.318 hektare di 15 kabupaten/kota, dan Sumatera Barat 6.451 hektare di 14 kabupaten/kota. Kerusakan ringan hingga sedang mencakup 69.240 hektare, terdiri dari 48.969 hektare ringan dan 20.271 hektare sedang, dengan rincian Aceh 32.652 hektare, Sumatera Utara 32.964 hektare, serta Sumatera Barat 3.624 hektare.
Di Aceh saja, sekitar 10.000 hektare akan direhabilitasi, membutuhkan 200.000 hari orang kerja (HOK) yang dibayar harian. Petani bekerja di lahan mereka sendiri, sementara benih, pengolahan tanah, dan perbaikan irigasi ditanggung pemerintah pusat. "Jadi saudara kita punya pendapatan, sementara benih dibantu gratis, pengolahan tanah, perbaikan irigasi semuanya dibantu pusat. Ini perintah langsung Bapak Presiden," tegas Amran.
Pemerintah menargetkan lahan rusak ringan hingga sedang selesai maksimal tiga bulan, mulai Januari hingga Februari 2026, dengan luas rehabilitasi awal 13.708 hektare. Untuk konteks lebih luas, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo memperkirakan pemulihan infrastruktur secara keseluruhan butuh 2-3 tahun, meski prioritas awal adalah membuka akses wilayah terisolasi. Program ini memastikan petani mendapat penghasilan harian yang cukup untuk kebutuhan keluarga selama proses berlangsung.