Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menyampaikan permohonan maaf atas kecelakaan mobil pengantar Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menabrak 22 siswa dan guru di SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara. Insiden terjadi pagi hari saat sopir cadangan salah menginjak pedal gas alih-alih rem di area tanjakan. Pemerintah menjanjikan penanganan medis optimal dan investigasi menyeluruh untuk mencegah kejadian serupa.
Insiden kecelakaan terjadi sekitar pukul 06.30 WIB pada Kamis, 11 Desember 2025, di lapangan upacara SDN Kalibaru 01, Cilincing, Jakarta Utara. Mobil minibus pengantar makanan MBG, yang dikemudikan sopir cadangan berinisial AI, tiba-tiba nyelonong masuk ke area sekolah dan menabrak kerumunan siswa yang sedang berbaris. Menurut penyelidikan awal, sopir mengira menginjak rem tetapi justru menekan pedal gas karena masalah rem di tanjakan dan kurangnya pengalaman sopir tersebut.
Total korban mencapai 22 orang, termasuk siswa dan satu guru. Sebanyak 11 korban telah pulang, empat dirawat di RS Cilincing, dan tujuh di RSUD Koja, dengan dua di antaranya memerlukan perawatan intensif oleh tim dokter spesialis. Semua biaya medis ditanggung oleh Badan Gizi Nasional (BGN). Kepala BGN Dadan Hindayana menyatakan keprihatinan mendalam dan meminta maaf atas kelalaian operasional, menambahkan bahwa program MBG telah berjalan lancar di sekolah tersebut sejak 24 Maret 2025, tetapi sopir utama sakit sehingga digantikan.
Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, melalui Sekretariat Wakil Presiden, menyampaikan: "Atas nama pemerintah, saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan menyayangkan kejadian ini. Kejadian ini tidak boleh terulang." Ia memerintahkan pengusutan tuntas, penegakan hukum, dan evaluasi prosedur, termasuk pemilihan sopir cadangan yang lebih berkualifikasi. Presiden Prabowo Subianto juga memberikan atensi penuh, dengan Dadan dipantau setiap menit oleh Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya.
Polisi dari Polda Metro Jaya telah mengamankan sopir dan kernet, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), serta memeriksa saksi termasuk guru. Pemeriksaan lanjutan, seperti tes urine sopir, masih berlangsung untuk menentukan penyebab pasti.