Tim SAR gabungan menemukan serpihan pesawat ATR 42-500 yang hilang kontak sejak Sabtu di wilayah Taman Nasional Bantimurung-Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Pesawat milik Indonesia Air Transport itu membawa 11 orang, termasuk tiga pegawai Kementerian Kelautan dan Perikanan yang sedang menjalankan misi pengawasan sumber daya laut. Operasi pencarian masih berlangsung di medan terjal dengan tantangan cuaca.
Pesawat ATR 42-500 dengan registrasi PK-THT milik PT Indonesia Air Transport (IAT) lepas landas dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta pukul 08.08 WIB pada Sabtu, 17 Januari 2026, menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Pesawat itu hilang kontak sekitar pukul 13.17 WITA di wilayah Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, saat membawa 11 orang: delapan kru dan tiga penumpang dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Penumpang KKP tersebut adalah Ferry Irawan (analis kapal pengawas), Deden Mulyana (pengelola barang milik negara), dan Yoga Naufal (operator foto udara), yang sedang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan melalui udara. Kru pesawat dipimpin Kapten Andy Dahananto, Direktur Operasi IAT, bersama Muhammad Farhan Gunawan, Restu Adi, Dwi Murdiono, Florencia Lolita, Esther Aprilita, dan satu orang lainnya.
Pada Minggu, 18 Januari 2026, tim SAR gabungan yang melibatkan Basarnas, TNI AU, Polri, BPBD, dan relawan menemukan serpihan pesawat. Pada pukul 07.46 WITA, ditemukan bagian jendela kecil di koordinat 04°55’48” LS – 119°44’52” BT. Selanjutnya, pukul 07.49 WITA bagian badan besar, dan pukul 08.02 WITA serpihan besar lainnya terpantau oleh helikopter Caracal. Badan pesawat utama ditemukan pukul 08.09 WITA di sisi utara puncak Bukit Bulusaraung.
"Penemuan serpihan pesawat ini menjadi clue penting dalam mempersempit area pencarian," ujar Kepala Kantor Basarnas Makassar Muhammad Arif Anwar. Deputi Basarnas Edy Prakoso menambahkan bahwa evakuasi tertunda karena angin kencang dan kabut. TNI AU mengerahkan lima prajurit Korpasgat dengan helikopter H225M Caracal, sementara tim darat dari Lanud Sultan Hasanuddin bergabung dengan masyarakat setempal.
Menteri KKP Sakti Wahyu Trenggono menyatakan prihatin dan berdoa untuk keselamatan semua. Operasi melibatkan 476 personel, dengan kebutuhan peralatan mountaineering untuk medan terjal. KNKT mulai mengumpul data, meski emergency locator transmitter diduga mati. Pencarian berlanjut dengan penyesuaian taktik.