Lembaga pemeringkat Fitch Ratings merevisi prospek peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi negatif, meskipun mempertahankan rating BBB. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai investasi jangka panjang, sementara Bank Indonesia menegaskan bahwa perubahan ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi. Faktor seperti tekanan fiskal dan konflik Timur Tengah disebut berkontribusi terhadap keputusan tersebut.
Pada 5 Maret 2026, Fitch Ratings mengumumkan revisi prospek peringkat utang Indonesia menjadi negatif, dengan alasan peningkatan belanja sosial seperti program Makan Bergizi Gratis (MBG) menambah tekanan pada ruang fiskal pemerintah. Meskipun demikian, rating utang tetap dipertahankan pada level BBB, yang masih termasuk kategori layak investasi. Fitch memperkirakan defisit fiskal Indonesia pada 2026 mencapai 2,9 persen dari PDB, dengan MBG menyumbang sekitar 1,3 persen dari PDB.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons dengan menyatakan bahwa MBG merupakan investasi jangka panjang yang berdampak pada ekonomi dan sosial. "Itu (MBG) adalah sebuah investasi, dan banyak negara melakukan itu. Bahkan Amerika pun melakukan itu," kata Airlangga di Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ia merujuk studi Bank Dunia dan Rockefeller Foundation yang menunjukkan setiap satu dolar investasi dalam MBG bisa menghasilkan manfaat ekonomi hingga tujuh dolar. Airlangga juga menyebut ekskalasi geopolitik di Timur Tengah sebagai salah satu faktor keputusan Fitch. "Tapi yang penting Indonesia tetap investment grade. Ke depannya, apa yang menjadi warning Fitch tentu akan kita pelajari," tambahnya. Pemerintah berencana memperkuat penerimaan negara melalui sistem Cortex untuk mendongkrak rasio pajak.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa revisi prospek ini tidak mencerminkan pelemahan fundamental ekonomi nasional. Gubernur BI Perry Warjiyo menyatakan pertumbuhan ekonomi tetap solid, inflasi terkendali, dan stabilitas sistem keuangan terjaga. "Afirmasi rating Indonesia pada BBB merefleksikan kepercayaan global terhadap fundamental ekonomi Indonesia yang tetap kuat," ujar Perry. BI memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 di kisaran 4,9-5,7 persen, dengan ketahanan eksternal yang kuat. BI akan terus memperkuat kebijakan untuk menjaga stabilitas makroekonomi di tengah ketidakpastian global.