Kemenlu pastikan pasukan stabilisasi di Gaza tak terlibat operasi tempur

Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI menegaskan bahwa personel Indonesia dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza berada di bawah kendali nasional penuh dan tidak akan terlibat dalam operasi tempur. Partisipasi ini berbasis mandat Dewan Keamanan PBB Resolusi 2803 (2025) dan fokus pada tugas kemanusiaan. Tugas personel dibatasi pada perlindungan sipil dan bantuan, dengan persetujuan Palestina sebagai syarat utama.

Jakarta - Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI mengeluarkan pernyataan tertulis pada Sabtu (14/2/2026) yang menegaskan partisipasi Indonesia dalam International Stabilization Force (ISF) di Gaza sepenuhnya di bawah kendali nasional. Hal ini sejalan dengan Politik Luar Negeri Bebas-Aktif dan hukum internasional.

"Tidak dihadapkan pada pihak manapun. Personel Indonesia tidak akan terlibat dalam operasi tempur atau tindakan apa pun yang mengarah pada konfrontasi langsung dengan pihak bersenjata mana pun," tulis pernyataan Kemenlu.

Ruang lingkup tugas personel Indonesia bersifat terbatas, sesuai national caveats yang tegas. Mandat ini non-combat dan non-demilitarisasi, fokus pada kemanusiaan seperti perlindungan warga sipil, bantuan kemanusiaan dan kesehatan, rekonstruksi, serta pelatihan Polisi Palestina.

Penggunaan kekuatan dibatasi hanya untuk bela diri dan mempertahankan mandat, secara proporsional dan sesuai aturan keterlibatan. Area penugasan terbatas di Gaza sebagai bagian integral Palestina, dengan persetujuan otoritas Palestina sebagai prasyarat.

Indonesia menolak segala bentuk perubahan demografi atau relokasi paksa rakyat Palestina. Kehadiran personel dapat diakhiri kapan saja berdasarkan kedaulatan Palestina. Kemenlu menambahkan bahwa partisipasi ini tidak menyiratkan pengakuan atau normalisasi hubungan politik dengan pihak mana pun, dan mendukung solusi dua negara untuk kemerdekaan Palestina.

Artikel Terkait

Indonesian Foreign Minister Sugiono at a press conference condemning the detention of volunteers by Israel with returning citizens in background
Gambar dihasilkan oleh AI

Foreign Minister Sugiono condemns detention of GSF volunteers by Israel

Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI

Nine Indonesian citizens detained by Israeli forces during the Global Sumud Flotilla 2.0 mission arrived home on May 24, 2026. Foreign Minister Sugiono condemned the action as a violation of international law.

The Indonesian government will deploy 780 TNI personnel to Lebanon on May 22, 2026, as part of the UN Interim Force in Lebanon (UNIFIL). House Commission I Deputy Chair Dave Laksono expressed full support while stressing that troop safety must remain the top priority.

Dilaporkan oleh AI

Indonesia's Ministry of Foreign Affairs has strongly condemned Israel's attacks on Beirut and other areas in Lebanon that killed civilians and damaged infrastructure. The strikes were labeled a serious violation of international law, risking regional escalation. Indonesia demands an end to the violence and calls for de-escalation.

In ongoing response to the US-Israel attack on Iran, Majelis Ulama Indonesia (MUI) and Islamic organizations renewed condemnations of military aggression and called for UN reforms during a national gathering in Jakarta on April 15, 2026. The statement, read by MUI Secretary General Amirsyah Tambunan, emphasized halting war and promoting global peace.

Dilaporkan oleh AI

President Prabowo Subianto condemned the attack that killed three TNI soldiers on a UNIFIL mission in Lebanon and paid respects to their remains upon arrival at Soekarno-Hatta Airport on April 4, 2026. The government demanded UN security guarantees amid ongoing concerns for troop safety.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak