Badan Narkotika Nasional (BNN) RI berhasil menangkap buronan Interpol Paryatin alias Dewi Astutik di Sihanoukville, Kamboja, pada 1 Desember 2025. Penangkapan ini melibatkan tim gabungan dengan otoritas setempat dan menargetkan jaringan peredaran narkoba lintas negara. Dewi, yang dikendalikan oleh seorang 'godfather' Nigeria, terlibat dalam pengiriman sabu ke berbagai negara sejak 2023.
Dewi Astutik, perempuan asal Indonesia berusia 43 tahun, tiba di Kamboja pada Februari 2023 sebagai buruh penipu daring. Ia kemudian bertemu dengan Warga Negara Nigeria berinisial DON, yang disebut sebagai 'godfather' dan buronan Drug Enforcement Administration (DEA) Amerika Serikat. DON, yang telah diekstradisi ke AS, mengatur suplai narkotika dan pendanaan, sementara Dewi menangani kurir dan pengemasan barang. Jaringan ini mulai merekrut sejak 2023 dan meluncurkan operasi kurir pada awal 2024, beroperasi di wilayah Golden Triangle (Thailand, Myanmar, Laos) dan terkait kasus Golden Crescent.
Kurir-kurir, termasuk Warga Negara Indonesia yang menganggur di Kamboja, mengedarkan narkotika seperti sabu, kokain, dan ketamin ke Indonesia, Laos, Hong Kong, Korea Selatan, Brasil, Ethiopia, serta negara lain di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Pada Mei 2025, BNN menggagalkan pengiriman dua ton sabu dari jaringan Golden Triangle yang melibatkan Dewi.
Penangkapan dimulai dari informasi intelijen pada 17 November 2025 tentang keberadaan Dewi di Phnom Penh. Tim BNN berangkat ke Kamboja pada 25 November 2025 dan bekerja sama dengan Kepolisian Kamboja, Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Phnom Penh, Badan Intelijen Strategis (BAIS) TNI, Atase Pertahanan RI, dan Bea Cukai. Operasi senyap berlangsung tanpa drama pada 1 Desember 2025, saat Dewi dan kekasihnya, Abdul Halim (Warga Negara Pakistan), menuju lobi hotel di Sihanoukville. Dewi, yang masuk red notice Interpol sejak 3 Oktober 2024 dan buronan Korea Selatan, ditangkap tanpa perlawanan.
Setelah diverifikasi di Phnom Penh, Dewi dipindahkan ke Indonesia untuk pemeriksaan intensif mengenai alur pendanaan, logistik, dan jaringan yang melibatkan Kamboja, Nigeria, dan Brasil. 'Penindakan tidak berhenti pada penangkapan, tetapi akan berlanjut pada pembongkaran seluruh struktur jaringan,' ujar Kepala BNN, Komisaris Jenderal Polisi Suyudi Ario Seto, pada 4 Desember 2025. Abdul Halim juga sedang diperiksa oleh polisi Kamboja dan disebut kooperatif.