IPC Terminal Petikemas menetapkan arah strategis 2026 dengan fokus pada keunggulan operasional dan layanan sebagai bagian dari rencana jangka panjang hingga 2030. Perusahaan berkomitmen meningkatkan kualitas layanan pelabuhan, memperkuat konektivitas logistik, dan mendukung pertumbuhan berkelanjutan. Inisiatif ini melanjutkan program transformasi digital untuk efisiensi dan transparansi.
IPC Terminal Petikemas, atau TPK, meluncurkan arah strategis untuk tahun 2026 yang berjudul 'Operational and Service Excellence'. Langkah ini merupakan tahap awal dari Rencana Jangka Panjang Perusahaan (RJPP) 2026-2030, yang bertujuan meningkatkan kualitas layanan kepelabuhanan, memperkuat konektivitas logistik, memastikan pertumbuhan usaha berkelanjutan, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan perekonomian nasional.
Direktur Utama IPC Terminal Petikemas, Guna Mulyana, menyatakan, "Penguatan operasional dan layanan merupakan kebutuhan utama agar IPC TPK dapat memberikan manfaat optimal bagi pengguna jasa, masyarakat, dan pemegang saham, sekaligus memperkuat peran pelabuhan dalam mendukung arus logistik nasional." Pernyataan ini disampaikan pada Selasa, 20 Januari 2026.
Roadmap perusahaan untuk 2026-2030 dibagi menjadi tiga tahapan: Operational and Service Excellence, Business and Connectivity Enhancement, serta Sustainable Development. Tahap pertama menekankan penguatan kinerja operasional dan kualitas layanan sebagai fondasi utama, termasuk proses bongkar muat yang lebih efisien, aman, dan konsisten.
Untuk mendukung hal ini, IPC TPK menjalankan program standardisasi, sistemisasi, dan integrasi operasi terminal secara berkelanjutan. Selain itu, perusahaan mempercepat digitalisasi layanan yang dimulai tahun sebelumnya, guna meningkatkan transparansi, kecepatan layanan, dan kemudahan akses informasi bagi pelanggan. Upaya ini diharapkan menurunkan biaya logistik dan membangun kepercayaan pengguna jasa.
Pada 2026, inisiatif ini melanjutkan transformasi digital sebelumnya, seperti implementasi Terminal Booking System (TBS) untuk mengatur arus kendaraan dan pelayanan, alat pemindai peti kemas untuk keamanan dan kepatuhan, serta Terminal Operating System (TOS) Nusantara dengan sistem PARAMA dan PRAYA. Sistem-sistem ini menjadi tulang punggung pengelolaan operasional yang terstandar, terintegrasi, dan berbasis data.