Penyelidik di Oregon Health & Science University telah menciptakan molekul bernama SU212 yang menghambat enzim kunci pada sel kanker payudara triple-negatif. Pada model tikus, senyawa tersebut mengurangi pertumbuhan tumor dan metastasis. Temuan ini menawarkan opsi pengobatan baru potensial untuk bentuk penyakit yang sulit diobati ini.
Penyelidik di Oregon Health & Science University (OHSU) telah mengembangkan molekul eksperimental bernama SU212, yang menargetkan kanker payudara triple-negatif, subtipe agresif yang menyumbang sekitar 15% dari semua kasus kanker payudara dan kekurangan pengobatan efektif yang memadai. \n\nStudi tersebut, yang diterbitkan di Cell Reports Medicine pada 2025, merinci bagaimana SU212 berikatan dengan enzim enolase 1 (ENO1), yang diproduksi berlebih oleh sel kanker untuk mengatur glukosa dan menyediakan bahan bakar bagi pertumbuhan mereka. Dengan berikatan pada ENO1, molekul tersebut menyebabkan enzim terurai, mengganggu metabolisme sel kanker serta membatasi kemampuan mereka untuk bertahan hidup dan menyebar. Pengujian pada model tikus humanisasi menunjukkan bahwa SU212 mengecilkan tumor dan memperlambat metastasis.\n\n「Ini merupakan langkah maju penting untuk mengobati kanker payudara triple-negatif,」 kata penulis senior Sanjay V. Malhotra, Ph.D., direktur bersama Center for Experimental Therapeutics di OHSU Knight Cancer Institute. 「Kanker payudara triple-negatif adalah bentuk kanker yang agresif dan saat ini belum ada obat efektif yang tersedia.」\n\nMalhotra, yang bergabung dengan OHSU pada 2020 setelah menjabat di Stanford University dan National Cancer Institute, menyatakan bahwa pendekatan ini dapat diperluas ke kanker lain yang dipengaruhi ENO1, seperti glioma, kanker pankreas, dan karsinoma tiroid. 「Obat yang menargetkan enolase 1 juga dapat membantu meningkatkan pengobatan kanker-kanker tersebut,」 tambahnya.\n\nFase berikutnya melibatkan pengembangan SU212 menuju uji klinis pada manusia, yang memerlukan persetujuan Food and Drug Administration serta sumber daya yang besar. Mekanisme ini juga berpotensi bermanfaat bagi pasien dengan kondisi metabolik seperti diabetes, karena ENO1 berperan dalam metabolisme glukosa. Penelitian ini didukung oleh National Institutes of Health, Department of Defense, dan dana OHSU.