SPT2349-56: Lubang hitam supermasif memicu gas panas tak terduga di gugus muda

Detail baru tentang gugus galaksi SPT2349-56, yang diamati hanya 1,4 miliar tahun setelah Big Bang, mengungkap tiga lubang hitam supermasif yang kemungkinan bertanggung jawab atas pemanasan gasnya hingga lima kali lebih panas daripada prediksi model—membangun atas pengamatan awal ALMA yang dilaporkan awal minggu ini.

Seperti yang dirinci dalam penemuan awal (dilaporkan 5 Januari), para astronom yang dipimpin oleh Dazhi Zhou dari University of British Columbia telah mengonfirmasi bahwa SPT2349-56 mengandung gas intracluster pada suhu puluhan juta derajat—lebih panas daripada permukaan Matahari dan jauh melebihi ekspektasi untuk struktur awal dan kompak yang membentang sekitar 500.000 tahun cahaya di intinya, sebanding dengan halo Bima Sakti. Gugus tersebut menampung lebih dari 30 galaksi aktif yang padat menghasilkan bintang dengan laju lebih dari 5.000 kali lipat Bima Sakti. Menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), termasuk kontribusi Kanada, tim mengukur suhu gas melalui efek Sunyaev-Zeldovich, memverifikasi panas ekstrem setelah berbulan-bulan analisis. «Kami tidak menexpect atmosfer gugus sepanas ini begitu dini», kata Zhou. Penulis bersama Scott Chapman dari Dalhousie University dan UBC menambahkan, «Tiga lubang hitam supermasif yang baru ditemukan sudah memompa jumlah energi besar ke lingkungan, membentuk gugus muda lebih ganas daripada yang diteorikan». Ini menantang model pemanasan bertahap, menunjukkan umpan balik cepat dari lubang hitam dan pembentukan bintang. Kematangan gugus menyiratkan fase baru dalam evolusi gugus awal. Studi masa depan akan mengeksplorasi dinamika ini, dengan pengamatan ALMA lebih lanjut yang direncanakan. Hasilnya muncul di Nature (5 Januari).

Artikel Terkait

Para astronom telah mengamati sebuah lubang hitam supermasif di galaksi J1007+3540 yang kembali memancarkan semburan energi kuat setelah hampir 100 juta tahun tidak aktif. Semburan tersebut, yang terdistorsi oleh tekanan hebat dari gugus galaksi di sekitarnya, membentang hampir satu juta tahun cahaya. Temuan ini mengungkap siklus aktivitas lubang hitam yang membentuk struktur galaksi.

Dilaporkan oleh AI

Sebuah tim peneliti mengusulkan bahwa lubang hitam supermasif di pusat Bima Sakti, yang dikenal sebagai Sagittarius A*, sebenarnya bisa jadi gumpalan padat materi gelap daripada lubang hitam tradisional. Model mereka, berdasarkan partikel materi gelap ferminonik, cocok dengan pengamatan orbit bintang dan gambar Teleskop Horizon Peristiwa 2022. Namun, banyak pakar tetap skeptis, lebih mendukung penjelasan lubang hitam.

Para astronom telah menemukan bahwa Bima Sakti berada di dalam lembaran datar luas dari materi yang didominasi oleh materi gelap, dikelilingi oleh kekosongan kosmik yang sangat besar. Struktur ini menjelaskan mengapa sebagian besar galaksi terdekat bergerak menjauh dari Kelompok Lokal kita daripada tertarik masuk oleh gravitasi. Penemuan ini, berdasarkan simulasi canggih, menyelesaikan teka-teki lama dalam kosmologi.

Dilaporkan oleh AI

Tim dari University of Arizona telah menentukan bahwa gerakan bintang yang kacau di Awan Magellan Kecil diakibatkan oleh tabrakan dengan Awan Magellan Besar ratusan juta tahun yang lalu. Tabrakan ini mengacaukan struktur galaksi dan menciptakan ilusi gas yang berputar. Temuan yang dipublikasikan di The Astrophysical Journal ini menantang peran SMC sebagai contoh galaksi.

Situs web ini menggunakan cookie

Kami menggunakan cookie untuk analisis guna meningkatkan situs kami. Baca kebijakan privasi kami untuk informasi lebih lanjut.
Tolak