Penyakit Hati
Ilmuwan Northwestern kembangkan tes diagnostik hepatitis C 15 menit
Dilaporkan oleh AI Gambar dihasilkan oleh AI Fakta terverifikasi
Ilmuwan di Universitas Northwestern telah mengembangkan tes PCR cepat yang dapat mendiagnosis hepatitis C dalam waktu sekitar 15 menit menggunakan sampel darah utuh. Diadaptasi dari sistem deteksi COVID-19 dan dibangun di atas platform PCR cepat DASH, tes ini bertujuan untuk memungkinkan pengobatan hari yang sama dan memperkuat upaya global untuk menghilangkan virus tersebut, dengan evaluasi awal menunjukkan akurasi yang sebanding dengan platform komersial yang ada.
Para peneliti di University of Adelaide menemukan bahwa memblokir enzim Caspase-2, yang sebelumnya dianggap sebagai pengobatan potensial untuk penyakit hati berlemak, dapat meningkatkan risiko kerusakan hati kronis dan kanker seiring berjalannya waktu. Pada tikus yang dimodifikasi secara genetik dan tidak memiliki Caspase-2 fungsional, sel-sel hati tumbuh menjadi sangat besar dan mengalami akumulasi kerusakan genetik, yang menyebabkan peradangan, jaringan parut, dan tumor. Temuan yang dipublikasikan dalam Science Advances ini menantang pengembangan inhibitor Caspase-2.
Dilaporkan oleh AI
Peneliti di Mayo Clinic telah menemukan mutasi langka pada gen MET yang secara langsung menyebabkan penyakit hati steatotik terkait disfungsi metabolik, kondisi yang memengaruhi sekitar sepertiga orang dewasa di seluruh dunia. Temuan ini, berdasarkan kasus keluarga tanpa faktor risiko khas, menunjukkan bahwa varian serupa mungkin berkontribusi pada penyakit tersebut pada banyak orang lain. Diterbitkan di Hepatology, studi ini menyoroti peran analisis genomik dalam mengungkap penyebab genetik tersembunyi.
Peneliti di Universitas Barcelona menemukan bahwa menggabungkan dua obat yang ada, pemafibrat dan telmisartan, secara signifikan mengurangi lemak hati pada model hewan penyakit hati steatotik terkait disfungsi metabolik (MASLD). Pendekatan ini dapat menawarkan opsi pengobatan yang lebih aman untuk kondisi tersebut, yang memengaruhi sekitar satu dari tiga orang dewasa di seluruh dunia. Temuan ini menyoroti potensi repurposing obat untuk mengatasi penyakit dengan terapi saat ini yang terbatas.